Showing posts with label Flash Fiction. Show all posts
Showing posts with label Flash Fiction. Show all posts

Monday, July 11, 2011

Tanah Abang?


Siang itu cuaca Jakarta panas. Panas sekali. Terlihat beberapa orang yang sedang menunggu mikrolet sambil mengipas-ngipaskan koran, map dan tangan kearah muka mereka. Cuaca yang panas itu menyebabkan fatamorgana yang menyilaukan mata. Pun dengan gadis yang mengenakan rok mini itu. Sekedar untuk melepas dahaga, saya pun beranjak dari tempat pemberhentian kendaraan umum lalu membeli sebotol air mineral.
Di waktu bersamaan  seorang pemuda menghampiri bapak yang sedang duduk menunggu mikrolet sambil mengipas-ngipaskan koran. "Maaf bang, saya orang baru di Jakarta, baru datang dari Sodong Tasikmalaya. Apakah ini Tanah Abang?" Tanya pemuda itu sambil tersenyum dan sedikit membungkukkan badannya.
"Oh bukan. Ini bukan tanah aku, sumpah! Aku juga baru datang dari Medan, jadi aku juga tidak tahu tanah siapa ini.”  Mendengar percakapan itu saya kemudian menghela nafas panjang dan sedikit lupa akan panasnya cuaca hari itu.  -_-#
(ilustrasi nemu di om google)

Monday, June 6, 2011

Jebakan Buaya


Pagi itu alun-alun negeri Kumulusun yang terletak tidak jauh dari sungai Kaluangai sudah ramai. Ramai sekali. Wajar, karena hari itu Raja Sulum Al-Lusun akan mencari pendamping untuk puteri tunggalnya. Nyi Sum Lusun. Dia perempuan yang cantik ayu dan sedikit pemalu. Terlihat beberapa pemuda tampan dan gagah berani berkumpul mengelilingi alun-alun. Tak lama setelah itu, baginda raja dan semua rombongan segera menuju tepian sungai untuk melaksanakan sayambara.
“Baiklah, saudara-saudara sekalian saya berterima kasih atas kedatang kisanak semuanya. Dihari yang indah ini saya bermaksud mencari pendamping untuk puteri saya. Disana, disungai itu dulunya terdapat sepuluh buaya yang ganas. Namun sekarang, tinggal tujuh. Karena beberapa waktu yang lalu tiga buaya lainnya telah dimangsa oleh saudaranya sendiri. Barang siapa yang berhasil menyeberangi sungai Kaluangai dengan selamat, maka dia berhak atas puteriku dan kerajaanku.”
Mendengar  bewara yang diucapkan oleh sang raja semua pria tampan dan gagah perkasa menjadi tidak bernyali. Bahkan terlihat beberapa pemuda memegang leher mereka sambil ketakutan. Dan suasanapun menjadi hening. Tiba-tiba dibalik semua keheningan itu, seorang pemuda kurus terjun melompati sungai dan dengan kecepatan tinggi di mampu selamat sampai seberang sungai Kaluangai.
“Wahai pemuda, siapa namamu? Darimana Asalmu? Apakah kamu bahagia mewarisi kerajaanku dan menikahi puteriku? Tanya baginda raja sumringah. “Maaf tuanku, rasa-rasanya semua pertanyaanmu tidak begitu penting bagiku. Sekarang aku hanya ingin tahu siapa orang yang mendorongku dan membuatku terjerumus di sungai ini”

Tuesday, April 26, 2011

Arumba

Arumba kerap kali membuat onar dalam keluarga atau pun lingkungannya. Tengok saja kejadian beberapa hari yang lalu. Sepulang sekolah rumba membuat ayahnya mengelus dada. Ketika itu ayahnya sedang adzan dhuhur. Tanpa sepengetahuan ayahnya, rumba masuk masjid dan memperhatikan apa yang sedang dilakukan ayahnya. Kemudian di keluar dari tempat peribadatan itu. Dia mendengar suara ayahnya muncul dari pengeras suara. Kemudian dia masuk lagi. Keluar lagi. Dan masuk lagi sambil berkata “horeee suara ayah terdengar keluar, suara ayah tak kalah bagus sama om iwan fals”. Kaget mendengar suara anaknya, Patarka yang sedang memanggil-manggil orang sekeliling desa untuk beribadah sholat kemudian menghentikan adzanya. “, ayah sedang adzan saying, tolong jangan berisik ya!” Dan Patarka lupa kalau tombol mic masih dalam keadaan menyala.
Bukan hanya itu bentuk-bentuk kenalakan rumba. Ketika sore tiba, setelah kejadian mengganggu adzan, Gipitapa ibu Arumba meminta tolong Arumba untuk mengambil ayam dari kandangnya. Ibunya berniat membuat ayam goreng bumbu asam manis saus torpedo untuk makan malam. Arumba tidak tahu bagaimana caranya menangkap ayam. Dia hanya bisa mengeluarkan semua ayamnya yang berjumlah empat ekor itu keluar dari kandangnya. Setelah ‘sang korban’ ada dihalaman rumah,. Arumba berpikir keras bagaimana menangkap sekumpulan ayam kampung pemberian pamannya. Arumba teringat sebuah alat canggih penangkap hewan milik ayahnya. Ya, pancingan. Tempo hari Arumba sempat melihat bagaimana kegiihan ayahnya menangkap beberapa ikan di kolam pamannya. Pikirnya, mungkin dengan pancingan itu dia bisa mengangkap salah satu ayamnya. “Horeee, Ibu aku berhasil mengangkap ayamnya, lihat Bu Rumba hebat”. Dengan bangga Arumba menghampiri Ibunya yang sedang meracik bumbu di dapur kemudian dia bercerita bagaimana cara dia mengangkap ‘sangkorban’. “Lalu, tiga ekor lainnya kemana Rumba?  Tanya ibu. “Rumba menangkapnya juga Bu, tapi Rumba masukin kolam, biar mereka tidak susah lagi ditangkap”. Mendengar cerita anaknya Gipitapa hanya bias mengelus dada. Arumba pun kemudian mandi.
Setelah mandi Arumba pun di panggil Ibunya. “Rumba, kamu kan perempuan, dan perempuan itu harus bias masak. Sekarang kamu lihatin Ibu masaka ya” Arumba hanya tersenyum mendengar nasehat Ibunya. “Coba masukin ayam yang sudah dipotong itu kedalam wajan, Ibu mau kerumah pamanmu” Rumba pun menuruti titah Ibunya. Kemudian Rumba memasukan ayam-ayamnya ke wajan dan Ibunya keluar meninggalkan rumah. Selang lebih kurang setengah jam, Arumba kesal dan bosan karena dia tidak tahu harus melakukan apa lagi. Arumba pun keluar rumah dan menemui Ibunya. Dalam perjalanan, Arumba melihat pertunjukan doger monyet. Arumba lebih tertarik melihat monyet-monyet yang menari-nari ketimbang melanjutkan perjalanan menuju rumahnya. “Min, aku balik lagi ya, kasihan rumba. Dia dirumah sendirian. Sekali lagi maaf ya untuk ayam dan kolamnya”. Setelah berpamitan, Gipitapa segera pulang menuju rumah. Ditempat yang berbeda Arumba kaget karena dia harus menemui Ibunya. Ia pun bergegas dan berlari menuju rumah pamanya. “Camulikum, pelmici Om, Bunda Tapa macih dicini?” Tanya Rumba sambil tersenggal-senggal. “Baru saja dia meninggalkan rumah dan pulang menuju rumahmu”. Malas dan cape setelah berlari Arumba pergi menuju dapur dan mengambil segelas air minum lalu menuju kamar adik sepupunya untuk istirahat. Lebih tepatnya tidur-tiduran dan kemudian tertidur.
Dari halaman rumah Gipitapa mencium bau kurang sedap, dengan sedikit lari kecil dia memasuki rumahnya dan menuju dapur. “Astaga, ayamnya gosong, yaaaaahhh Arumba -_-

(Kegosongan itu menjdi cikal bakal arumba menjadi garing hingga saat ini)

Saturday, January 15, 2011

Adzan Jum’at

cuaca pagi ini cerah. cerah sekali. hampir sulit dibedakan antara cerah dan panas. sebagian orang sudah meninggalkan rumanhnya untuk beraktifitas. tak terkecuali dengan uma. mantan narapidana yang baru keluar beberapa bulan itu terlihat sedang sibuk beres-beres masjid. sebentar lagi sholat jum’at akan dilaksanakan dimasjid itu. ketika uma sedang mengepel masjid, haji maman yang baru pulang nyawah datang menghampirinya.

“ma, yang bersih ya ngepel lantainya! biar nanti jamaah nyaman ketika melakukan ibadah shalat jum’atnya” seru pak haji sambil tersenyum kecil.

“siap pak haji, pasti kinclong…clong” balas uma dengan ekspresi wajah yang senang.

“yaudah, kalau begitu saya pulang dulu kerumah, mau siap-siap dulu. assalamualaikum!” sambil memegang cangkul, pak haji meninggalkan uma.

setengah jam kemudian, uma sudah ganti kostum. pun dengan pak haji. uma tampak gagah ketika duduk dibarisan paling depan. bersebelahan dengan haji maman.

“ma, nanti kamu adzan ya!” seru pa haji dengan suara yang pelan kepada uma.

“siap gan, eh ko gan sih. maksud saya siap ji” balas uma dengan senang. hari itu adalah hari pertama uma mengumandangkan adzan selama hidupnya.

“ji, yang bener aja masa si uma disuruh adzan?” sahut pak erte pelan kepada pak haji.

“ngga apa-apa pak te, ibadah itu tidak hanya sholat, zakat atau ngaji. memberi kesempatan orang lain untuk adzan, itu adalah ibadah” pak haji melanjutkan dzikirnya.

mendengar pembicaraan itu uma hanya melirik ke arah pak erte. dalam hati, uma berdoa kepada tuhan agar adzan pertamanya dilancarkan.

jam dinding menunjukan pukul 11.54. wib itu tandanya uma harus segera berdiri didepan microfon dan mengumandangkan ajakan-ajakan kemenangan.

“allohu akbar….allohu akbar”

“allohu akbar…..allohu akbar”

“eh ji, suara si uma bagus juga ya!” sahut pak erte

“percaya kan kamu sekarang te! kalau si uma bisa adzan, bagus lagi adzannya!”

mendengar perbincangan pelan antara pak haji dan pak erte, dengan spontan dia mengacaukan semuanya.

“gwaaaaaa gitttuuuuu jiiii” suara uma terdengar keras di spiker masjid.

“astagfirullohal adzim….” haji maman dan beberapa jemaah masjid kaget dengan perangai uma.