Showing posts with label Rasa. Show all posts
Showing posts with label Rasa. Show all posts

Friday, October 19, 2012

surat dari kamar kosan


di sebuah kamar kosan yang tidak terlalu besar. terlihat beberapa macam barang berserakan. pakaian kotor menumpuk tidak beraturan di atas tempat cucian, buku - buku bergeletakan, beberapa puntung rokok bertebaran, gelas - gelas kopi menumpuk di pojokan kamar samping gitar yang hanya menyisakan dua senar, sajadah dan handuk berlipatan. kamar yang berantakan.

nyanyian lagu dari iwan fals mengalun pelan, layar komputer menyala terang, dua paragraf tulisan terlihat samar di mata seorang pemuda yang belajar menjadi dermawan. mukanya sedikit kusam, matanya kelelahan.  ada kerinduan dan juga dendam dibalik parasnya yang tidak terlalu menawan. 

pencarian terhadap kebahagiaan dan kedamaian.

secangkir kopi diseruputnya perlahan. rokok kretek dihisapnya dalam - dalam, asapnya mengepul mengitari temaram lampu pijar. tulisannya di baca berulang - ulang. kenyataannya tidak ada perubahan. menyadari akan itu, matanya terpejam, senyumnya mengembang ketika adzan shubuh berkumandang. kemudian di tulisnya perlahan, "kebahagiaan, kedamaian, adalah hasrat kemanusiaan untuk menemukan jalan menuju rumah peristirahatan, bersemayam, bersatu menuju Tuhan".






surat dari meja makan


pagi menjelang. mentari mulai menerang, membawa harapan bagi setiap insan yang akan melakukan berbagai peran dalam kehidupan. cuaca yang cerah, langit biru dibalut awan putih seperti kapas. ah, indah. jinggle rayuan pulau kelapa terdengar mengalun pelan dari radio republik indonesia yang sempat jaya pada jamannya. sudah dapat dipastikan, harga-harga sembilan bahan pokok merupakan kabar pasar yang selalu ibu nantikan, sebelum dia pergi berangkat mengajar. sedangkan bagi bapak, surat kabar dan kopi hangat itu sebuah komposisi yang pas untuk mengawali hari di bawah hangatnya sinar mentari. kakak? yang saya ingat, setelah sholat dia selalu berangkat lebih cepat. dia tidak mempunyai toleransi terhadap kata terlambat. dan dia rela mengorbankan obrolan di meja makan demi mengejar cita-citanya dimasa depan. suasana pagi hari sebuah  keluarga bahagia di selatan indonesia. sederhana, namun kaya akan cipta dan citarasa bahagia. ya, bahagia.




Wednesday, March 28, 2012

raport merah ini


terima kasih,

terima kasih,,


terima kasih,,,


nama saya kartiwa,
dengan hurup kecil di depan,
dan embel-embel kara bayanaka di belakangnya.
perlu dicatat,
sebenarnya saya berterima kasih kepada kalian semua
yang telah mencari-cari kesalahan
dan kekurangan saya.
tapi maaf,
saya belum bisa membalasnya.
biarlah Dzat yang lebih berwenang atas itu.


saya tidak cukup cerdas dan pintar memang,
tapi,
setidaknya saya masih bisa berpikir jernih
ketika harus membedakan mana sendok
dan yang mana garpu.
dan saya tahu betul bersih atau tidaknya tangan saya,
ketika saya akan makan.



Monday, October 10, 2011

bersemai damai


aku bukan satu-satunya orang yang bermimpi jika dunia ini nyaman.
sela diantara jari jemari yang Engkau ciptakan, seharusnya kami gunakan untuk saling menjabat erat tali persaudaraan.
bukan menjadi kepalan tinju yang membela hawa nafsu.
ada keserakahan yang menyebabkan kelaparan dan kesengsaraan.
negara, agama bukan lagi jaminan.
keduanya terkadang bisa dimainkan.

Tuhan, restui kami dengan jemari ini untuk saling menjabat erat tali persaudaraan.
bukan pertikaian yang kami inginkan, tapi perdamaian.

Friday, July 1, 2011

peri bahasa

"ulah munjung ka gunung
ulah muja ka sagara
punjung mah ka indung
puja mah ka bapa"

Saturday, June 4, 2011

telegram tuhan

demi bau tanah setelah diguyur hujan
dan bau kaki yang dibalut kaos kaki
diri yang terisolasi
dalam rupa manusia yang tak manusiawi
ada sebuah kealpaan dalam fikiran
ketika hendak menggapai sebuah tujuan
seringkali kita melupakan orang tua yang merupakan teladan!
lalu, kenapa kita menjadi demikian?
tersirat kabar melalui sebuah telegram dari tangan tuhan, yang terucap dari mulut seorang perempuan
nyatanya orang tua tidak bertindak demikian.

Friday, May 6, 2011

Cara Kami merasa


“….Awas ah ketawa mulu, ntar kita jadian loh….”

Mendengar kata – kata itu, kemudian sepasang bola mata yang bulat dibalut kacamata dengan pipi merah merona kemudian tersenyum. Senyum yang mengembang. Malam itu, kalaupun Venus ada disampingku, aku yakin perempuan yang sekarang sedang duduk manis dihadapanku jauh lebih cantik. Melalui dua gelas bandrek panas dan empat potong pisang goreng, sebuah kepastian akan hari esok dan babak baru keturunan Adam dan Hawa dimulai sejak saat itu.
Dia perempuan biasa. Aku juga biasa. Tapi, ketika kami berdua, itu bisa jadi luar biasa. Kami hanya sepasang insan yang bertalian rasa, mencoba hidup bahagia, bukan mencari siksa kemudian terpaksa untuk mencinta.
***

Wednesday, May 4, 2011

Musik sebagai alat komunikasi

          Kehidupan manusia tidak bisa dilepaskan dari musik. Bahkan orang – orang yang hidup di pedalaman pun mengenal musik. Dari dulu sampai sekarang upacara – upacara adat yang digelar mereka, pasti diwarnai oleh bunyi – bunyian yang dikeluarkan oleh alat musik tradisional maupun dari mulut orang-orang yang sedang mengikuti acara tersebut. Begitu juga dengan acara – acara keagamaan. Lantunan ayat suci Al-Qur’an yang keluar dari mulut qari atau qari’ah, bahkan puji – pujian dalam shalawat nabi pun mengeluarkan nada – nada yang enak didengar. Umat Kristen bahkan punya Paduan Suara Gereja. Itulah mengapa manusia tidak bisa hidup tanpa musik. Suka atau tidak, musik telah memberikan pengaruh yang sangat besar kepada manusia. Itulah sebabnya, orang seperti Bob Marley, Elvis Presley dan beberapa musisi lainnya bisa mempengaruhi jutaan penduduk Jamaika, Amerika bahkan penduduk dunia lewat lirik – lirik lagunya. 
Malam ini, ketika tanpa sengaja saya membuka sebuah folder bernamakan ‘musik ciamiksss’. Sekilas saya membacanya musik ciamis, penasaran dengan isi dari folder itu saya pun membukanya lalu memasukan satu persatu kedalam playlist winamp dan mendengarkan beberapa lagu tanpa judul itu (hanya bertuliskan; track 01, track 02 dst).
Sambil mendengarkan lagu – lagu itu, ternyata itu bukan dari musisi – musisi yang legendaris. Bukan juga lagu – lagu yang laris ataupun lagu yang berkisah cinta romantis. Ini adalah lagu yang akrab ditelinga saya ketika jaman kuliah dulu. Salah satu yang masih saya ingat betul adalah lagu yang berjudul “buruh tani”. Dan ini lrik lagunya:

Buruh tani mahasiswa rakyat miskin kota/
Bersatu padu rebut demokrasi//
Gegap gempita dalam satu suara/
Demi tugas suci yang mulia//
Hari-hari esok adalah milik kita/
Terciptanya masyarakat sejahtera/
Terbentuknya tatanan masyarakat
Indonesia baru tanpa Orba//
Marilah kawan/ mari kita kabarkan/
Di tangan kita tergenggam arah bangsa/
Marilah kawan/ mari kita nyanyikan/
Sebuah lagu tentang pembebesan//
Di bawah kuasa tirani/
Kususuri garis jalan ini/
Berjuta kali turun aksi/
Bagiku satu langkah pasti//

 Awalnya musik mungkin hanya serangkaian bunyi yang memiliki nada. Bunyi – bunyian tersebut dikeluarkan melalui suara manusia, atau alat – alat lain yang bisa mengeluarkan nada, seperti alat – alat musik misalnya. Musik itu sendiri kemudian menjadi bentuk komunikasi. Jika kita lihat dari model komunikasi Laswell yang berbunyi, who says what to whom in which channel with what effect, maka musik dapat kita masukkan ke dalam salah satu bentuk komunikasi. Dan bagi saya, setelah mendengar beberapa lagu tadi, saya merasa merindukan masa – masa kuliah saya. Salah satunya adalah masa ketika aksi.
Terima kasih untuk kejutan malam ini, berkat mendengarkan beberapa lagu waktu dulu saya masih harus beraksi menulis skripsi dan wisuda bulan juli.

Thursday, April 28, 2011

Bincang riang


Malam panjang bertabur bintang
Cemerlang
Hati yang riang
Berbincang
Tuhan, adakah ruang untuk saling menyayang?

Wednesday, April 27, 2011

Bincang bimbang

Malam panjang tanpa bintang
Remang
Hati yang bimbang
Berbincang
Tuhan, apakah nanti kuburanku terang?

Monday, January 17, 2011

terima kasih Tuhan telah menciptakan gorengan

Tuhan, berikan aku satu orang yang bisa menghiasai kehidupanku. Yang bisa mewarnai hari-hariku dan berbagi satu sama lainnya. Itulah do'aku padaMu setahun yang lalu. kepada Sang Maha Lain. Malam ini Engkau memberikan sesuatu yang lebih. Kejutan yang tidak pernah aku duga. Tidak hanya satu. Tapi banyak sekaligus. Tidak hanya dia yang mempunyai senyuman indah. Engkau juga memberikan mereka. Mereka yang selalu dekat dengan kehidupanku. Orang-orang yang selalu ada disekelilingku. Buatku mereka tidak hanya teman. Mereka adalah saudara, walaupun kami tidak pernah terikat oleh hubungan darah. Di ulang tahun kami yang pertama, aku menemukan sauatu yang lain daripada biasanya. Sesuatu yang ketika dipertanyakan, aku hanya bisa menjawab dengan senyuman mengembang dengan mata terpejam. Terima kasih Tuhan, telah memberikan kesempatan kepada kami untuk berkumpul kembali di malam ini. Terima kasih saudara-saudaraku. Terima kasih atas kedatangan kalian. Selamat ulang tahun kawan. Semoga selamat sampai tujuan.

Saturday, January 15, 2011

lamunan disebuah toilet

sebuah bisikan membuatnya larut dalam dimensi imajenasi
disaksikan temaram lampu kamar dia seperti menjadi sangsi
lalu dia berserah diri dan bersemedi
berpikir mengenai sebuah teka-teki yang seakan tidak bertepi
atau dia memang tidak pernah menepi?

atas nama

tadi,
atas nama kloset yang tadi saya duduki
atas nama gayung yang mengambang di air
kemana sabun itu berlalu?

lalu,
atas nama lantai yang selalu diinjak
atas nama pintu yang menghalangi sekaligus menutupi
atas nama andi yang ditelepon seorang perempuan
atas nama mas kib yang menonton cookies
atas nama fajar yang menemani mas kib
kenapa kalian tidak merokok?

hehehe,
lanjut...

barusan,
atas nama batu, pasir, air dan semen yang berpelukan erat
atas nama cat yang menghiasi
atas nama kursi yang terduduki
bagaimana rasanya diam?

sekarang,
malam ini terasa sepi [diambil dari dialog salah satu cookies yang ditonton mas kib]
surrrppp [suara teh manis yang aku seruput]
kembali saya hisap rokok
serasa juara pisan....

masih juga sekarang,
atas nama, bawah nama, kiri nama dan kanan nama
mengapa nama begitu penting?
mengapa tuhan menurunkan kemampuan untuk menamai?
apakah ini semacam teka-teki silang untuk menemuinya?

kemudian,
aku menjadi bertanya-tanya apakah aku mengenali aku yang dinamai ibu dan ayahku yang terlahir dari nenek-nenekku?

kemudian [lagi]
bagaimana aku mengenali penciptaku jika untuk mengartikan nama saja aku belim mampu?

-tulisan iseng ini, terinspirasi ketika saya [maaf] sedang berak-

Putus

cuaca pagi ini mendung. bumi masih berkabung atas kejadian kurang mengenakan yang menimpa kerabat-kerabatku di negeri yang gila sanjung. sesekali angin pun berhembus agak kencang. hasrat untuk menyeduh secangkir kopi pun muncul. kopi hitam tentunya. tak lama kemudian sekedar mengisi waktu luang, aku berusaha menata kembali barang-barang yang ada di kamar kecilku ini. kamar yang sudah begitu akrab dengan kata berantakan. dipojokan kamar dibawah sebuah poster jimmy hendrix, sebuah gitar tua pemberianmu masih menggantung, dia tetap tegak dengan kebisuannya. merasa rindu dengannya akupun mengambil benda itu. membersihkan benda ajaib itu dari debu-debu yang berterbangan dan hinggap di tubuh indahmu. nada dari kunci g yang kumainkan mengingatkan akan sebuah senyuman mengembang dengan mata terpejam darimu. intro lagu yang akrab ditelinga kami dulu. sambil melihat foto kita, akupun menyanyikan sebuah lagu. lagu yang dulu pernah kita nyanyikan bersama. nada-nada harmonis yang keluar dari guitar tua pemberianmu ini masih tetap enak didengar, hanya saja aku tidak sanggup menyanyikan bait demi bait lagu itu dan aku pun tidak bisa berkata-kata ketika mengingat masa-masa dulu.

sendu yang dibalut rindu membuatku membisu ketika senar gitar no-3 ini putus. tanpa disadari airmataku berlinang. apa yang kualami tadi pagi ini, mengingatkanku akan sebuah kejadian sembilan tahun yang lalu. ketika itu aku tanpa sengaja memutuskan senar gitarmu. aku ingat betul kamu tidak marah pagi itu. kamu hanya tersenyum mengembang dengan mata terpejam. terpejam untuk selamanya. ajal menjemputmu diwaktu yang tidak kita ketahui. selamat jalan kakak sepupu. selamat beritirahat. maaf aku memutuskan senar gitarmu.

Hai Dokter!

“Dia menjual lima hektar tanah demi berkedip

Ada juga yang menggadai rumah untuk menghilangkan nanah

Meminjam jasa sekaligus siksa kepada lintah darat demi obat asam urat

Termenung karena mahalnya obat sakit jantung

Atau mungkin berniat bunuh diri karena sakit komplikasi?”

Hai Dokter! Kenapa kamu datang terlambat? dan Kenapa resep obatmu mahal?

Saturday, June 19, 2010

mangga, sederhana?

sore itu, gerimis membasahi bumi. tercium aroma yang khas.
aroma sebuah harapan.

sambil menikmati beberapa potong mangga yang telah dikupas, aku menikmati suasana senja.
kegiatan yang aku sukai ketika berada dirumahku.

ketika aku akan memakan potongan keempat mangga arum manis itu, tiba-tiba dari arah dapur terdengar suara seorang ibu yang nyaman ketika mendengarnya.

"belajarlah dari mankan mangga, ibu mengawali percakapnnya sambil memotong sayuran untuk makan malam.

"emh...maksudnya bu?

"kelupas cangkangnya, makan buahnya dan tanamlah bijinya"
"ya, kamu teh da udah besar, kalo dapat sesuatu teh dipilah-pilah dulu, lalu ambil yang baiknya dan tanamkan kebaikannya kepada orang lain, walau hanya sedikit"


sederhana sekali apa yang ibu saya bilang. tapi, kesederhanaan itu ada sesuatu yang memang tidak sederhana...

ya beginilah sore yang sudah beberapa hari ini aku nikmati bersama keluarga. obrolan-obrolan tentang keseharian yang sederhana...

Friday, May 14, 2010

Ibuku, Ibu paling juara sedunia!

Aku masih ingat pertama kali siapa yang mengantarkan dan membetulkan dasi serta seragam sekolah ketika hari pertamaku sekolah. Sambil berkata "duh cakepnya anak Ibu, jangan nakal disekolah ya". Lagi-lagi kata itu akrab ditelingaku ketika aku hendak pergi kekampus.

Bagiku, Ibu itu
Maha guru kasih sayang
Dia yang selalu mengajarkan apa itu keindahan
Dia yang selalu mengajarkan kalau hidup itu hidup itu harus lembut seperti embun
Dia yang selalu mengingatkanku segera sembahyang jika waktu shalat tiba,
"shalat...shalat...shalat..."
Dia yang selalu mendo'akan kebaikan untuk keluarga ini
Dia yang menyiapkan sarapan paling mahal sedunia, nasi telor dadar kasih sayang
Dia yang merawat kami, bapak, kakak dan aku ketika sakit
Dia yang selalu mengingatkan "Awas kalau kamu bikin malu Ibu"
Dia yang menangis terharu ketika kakak menikah
Dia yang menungu pintu ketika aku masih diperjalanan pulang,
lalu berkata, "cape jang? (cape nak?)
Dia yang selalu mengajarkan apa itu ketabahan dalam menghadapi setiap cobaan hidup
Dia yang tersenyum ketika aku dan kakakku mendapat nilai bagus disekolah
Dia yang selalu membetulkan dan merapikan pakaian bapak sebelum berangkat kerja
Dia yang bercita-cita pergi haji dimasa tuanya
Dia yang bercita-cita semua orang bisa tersenyum ikhlas dipagi hari
Dia yang mengenalkan toleransi beragama lewat dongeng Muhammad S.A.W
Dia yang tidak pernah takut akan sesuatu, kecuali Tuhan dan apa itu salah
Dia...
Dia......
Dia..........
Arsitek kasih sayang terbaik sedunia!!
Bagiku, bingkaian dan rangkaian kata-kata indah didunia ini tidak bisa menggantikan kasih sayangmu.

Ibu, lekas sembuh Ibu.





Thursday, April 15, 2010

Rindu Ibu

" bulir-bulir air mata rindu"
(ilustrasi: hasil browsing di google.com)

              


   Gerimis malam ini turun perlahan, memecah heningnya malam. Nyanyian lagu rayuan pulau kelapa terdengar merdu. Alunannya membuat rindu. Rindu dengan mahligai tanah air seperti yang tersirat dalam syair lagu itu. Perasaan yang sama ketika kita rindu Ibu. Kemudian sebuah pesan singkat memecahkan lamunanku. “Nak, lagi dimana? Sudahkah kamu menemuiNYA malam ini? Jaga diri baik-baik disana”. Tak berapa lama setelah itu, tetesan airmata menjatuhi pipiku perlahan. Aku terharu.

   Tanpa ragu, aku beranjak dari mejaku. Dengan pasti aku meninggalkan aktifitasku. Kemudian menuju rumah dan segera ingin bertemu Ibu. Aku rindu, sangat rindu Ibu. Rindu sekali. Bulir air hujan dan air mataku bersatu. Aku ingin segera memeluk Ibu. Erat. Erat sekali. Dan meminta maaf atas semua kelalaianku. Kemudian tidur dipangkuanmu. Seperti masa kecil dulu, ketika engkau menina bobokan aku.

 

(Jalan mangga. Kamis, 15 April 2010)