Friday, October 19, 2012
surat dari kamar kosan
surat dari meja makan
Wednesday, March 28, 2012
raport merah ini
terima kasih,
terima kasih,,
terima kasih,,,
nama saya kartiwa,
dengan hurup kecil di depan,
dan embel-embel kara bayanaka di belakangnya.
perlu dicatat,
sebenarnya saya berterima kasih kepada kalian semua
yang telah mencari-cari kesalahan
dan kekurangan saya.
tapi maaf,
saya belum bisa membalasnya.
biarlah Dzat yang lebih berwenang atas itu.
saya tidak cukup cerdas dan pintar memang,
tapi,
setidaknya saya masih bisa berpikir jernih
ketika harus membedakan mana sendok
dan yang mana garpu.
dan saya tahu betul bersih atau tidaknya tangan saya,
ketika saya akan makan.
Monday, October 10, 2011
bersemai damai
Friday, July 1, 2011
peri bahasa
ulah muja ka sagara
punjung mah ka indung
puja mah ka bapa"
Saturday, June 4, 2011
telegram tuhan
dan bau kaki yang dibalut kaos kaki
diri yang terisolasi
dalam rupa manusia yang tak manusiawi
ada sebuah kealpaan dalam fikiran
ketika hendak menggapai sebuah tujuan
seringkali kita melupakan orang tua yang merupakan teladan!
lalu, kenapa kita menjadi demikian?
tersirat kabar melalui sebuah telegram dari tangan tuhan, yang terucap dari mulut seorang perempuan
nyatanya orang tua tidak bertindak demikian.
Friday, May 6, 2011
Cara Kami merasa
Wednesday, May 4, 2011
Musik sebagai alat komunikasi
Thursday, April 28, 2011
Bincang riang
Wednesday, April 27, 2011
Bincang bimbang
Remang
Hati yang bimbang
Berbincang
Tuhan, apakah nanti kuburanku terang?
Monday, January 17, 2011
terima kasih Tuhan telah menciptakan gorengan
Saturday, January 15, 2011
lamunan disebuah toilet
disaksikan temaram lampu kamar dia seperti menjadi sangsi
lalu dia berserah diri dan bersemedi
berpikir mengenai sebuah teka-teki yang seakan tidak bertepi
atau dia memang tidak pernah menepi?
atas nama
atas nama kloset yang tadi saya duduki
atas nama gayung yang mengambang di air
kemana sabun itu berlalu?
lalu,
atas nama lantai yang selalu diinjak
atas nama pintu yang menghalangi sekaligus menutupi
atas nama andi yang ditelepon seorang perempuan
atas nama mas kib yang menonton cookies
atas nama fajar yang menemani mas kib
kenapa kalian tidak merokok?
hehehe,
lanjut...
barusan,
atas nama batu, pasir, air dan semen yang berpelukan erat
atas nama cat yang menghiasi
atas nama kursi yang terduduki
bagaimana rasanya diam?
sekarang,
malam ini terasa sepi [diambil dari dialog salah satu cookies yang ditonton mas kib]
surrrppp [suara teh manis yang aku seruput]
kembali saya hisap rokok
serasa juara pisan....
masih juga sekarang,
atas nama, bawah nama, kiri nama dan kanan nama
mengapa nama begitu penting?
mengapa tuhan menurunkan kemampuan untuk menamai?
apakah ini semacam teka-teki silang untuk menemuinya?
kemudian,
aku menjadi bertanya-tanya apakah aku mengenali aku yang dinamai ibu dan ayahku yang terlahir dari nenek-nenekku?
kemudian [lagi]
bagaimana aku mengenali penciptaku jika untuk mengartikan nama saja aku belim mampu?
-tulisan iseng ini, terinspirasi ketika saya [maaf] sedang berak-
Putus
cuaca pagi ini mendung. bumi masih berkabung atas kejadian kurang mengenakan yang menimpa kerabat-kerabatku di negeri yang gila sanjung. sesekali angin pun berhembus agak kencang. hasrat untuk menyeduh secangkir kopi pun muncul. kopi hitam tentunya. tak lama kemudian sekedar mengisi waktu luang, aku berusaha menata kembali barang-barang yang ada di kamar kecilku ini. kamar yang sudah begitu akrab dengan kata berantakan. dipojokan kamar dibawah sebuah poster jimmy hendrix, sebuah gitar tua pemberianmu masih menggantung, dia tetap tegak dengan kebisuannya. merasa rindu dengannya akupun mengambil benda itu. membersihkan benda ajaib itu dari debu-debu yang berterbangan dan hinggap di tubuh indahmu. nada dari kunci g yang kumainkan mengingatkan akan sebuah senyuman mengembang dengan mata terpejam darimu. intro lagu yang akrab ditelinga kami dulu. sambil melihat foto kita, akupun menyanyikan sebuah lagu. lagu yang dulu pernah kita nyanyikan bersama. nada-nada harmonis yang keluar dari guitar tua pemberianmu ini masih tetap enak didengar, hanya saja aku tidak sanggup menyanyikan bait demi bait lagu itu dan aku pun tidak bisa berkata-kata ketika mengingat masa-masa dulu.
sendu yang dibalut rindu membuatku membisu ketika senar gitar no-3 ini putus. tanpa disadari airmataku berlinang. apa yang kualami tadi pagi ini, mengingatkanku akan sebuah kejadian sembilan tahun yang lalu. ketika itu aku tanpa sengaja memutuskan senar gitarmu. aku ingat betul kamu tidak marah pagi itu. kamu hanya tersenyum mengembang dengan mata terpejam. terpejam untuk selamanya. ajal menjemputmu diwaktu yang tidak kita ketahui. selamat jalan kakak sepupu. selamat beritirahat. maaf aku memutuskan senar gitarmu.
Hai Dokter!
“Dia menjual lima hektar tanah demi berkedip
Ada juga yang menggadai rumah untuk menghilangkan nanah
Meminjam jasa sekaligus siksa kepada lintah darat demi obat asam urat
Termenung karena mahalnya obat sakit jantung
Atau mungkin berniat bunuh diri karena sakit komplikasi?”
Hai Dokter! Kenapa kamu datang terlambat? dan Kenapa resep obatmu mahal?
Saturday, June 19, 2010
mangga, sederhana?
Friday, May 14, 2010
Ibuku, Ibu paling juara sedunia!
Thursday, April 15, 2010
Rindu Ibu
Gerimis malam ini turun perlahan, memecah heningnya malam. Nyanyian lagu rayuan pulau kelapa terdengar merdu. Alunannya membuat rindu. Rindu dengan mahligai tanah air seperti yang tersirat dalam syair lagu itu. Perasaan yang sama ketika kita rindu Ibu. Kemudian sebuah pesan singkat memecahkan lamunanku. “Nak, lagi dimana? Sudahkah kamu menemuiNYA malam ini? Jaga diri baik-baik disana”. Tak berapa lama setelah itu, tetesan airmata menjatuhi pipiku perlahan. Aku terharu.
Tanpa ragu, aku beranjak dari mejaku. Dengan pasti aku meninggalkan aktifitasku. Kemudian menuju rumah dan segera ingin bertemu Ibu. Aku rindu, sangat rindu Ibu. Rindu sekali. Bulir air hujan dan air mataku bersatu. Aku ingin segera memeluk Ibu. Erat. Erat sekali. Dan meminta maaf atas semua kelalaianku. Kemudian tidur dipangkuanmu. Seperti masa kecil dulu, ketika engkau menina bobokan aku.
(Jalan mangga. Kamis, 15 April 2010)

