Showing posts with label gelisah. Show all posts
Showing posts with label gelisah. Show all posts

Friday, October 19, 2012

surat dari kamar kosan


di sebuah kamar kosan yang tidak terlalu besar. terlihat beberapa macam barang berserakan. pakaian kotor menumpuk tidak beraturan di atas tempat cucian, buku - buku bergeletakan, beberapa puntung rokok bertebaran, gelas - gelas kopi menumpuk di pojokan kamar samping gitar yang hanya menyisakan dua senar, sajadah dan handuk berlipatan. kamar yang berantakan.

nyanyian lagu dari iwan fals mengalun pelan, layar komputer menyala terang, dua paragraf tulisan terlihat samar di mata seorang pemuda yang belajar menjadi dermawan. mukanya sedikit kusam, matanya kelelahan.  ada kerinduan dan juga dendam dibalik parasnya yang tidak terlalu menawan. 

pencarian terhadap kebahagiaan dan kedamaian.

secangkir kopi diseruputnya perlahan. rokok kretek dihisapnya dalam - dalam, asapnya mengepul mengitari temaram lampu pijar. tulisannya di baca berulang - ulang. kenyataannya tidak ada perubahan. menyadari akan itu, matanya terpejam, senyumnya mengembang ketika adzan shubuh berkumandang. kemudian di tulisnya perlahan, "kebahagiaan, kedamaian, adalah hasrat kemanusiaan untuk menemukan jalan menuju rumah peristirahatan, bersemayam, bersatu menuju Tuhan".






Friday, March 2, 2012

Statis

Sudah beberapa hari ini, kereta malam menuju ibukota menjadi sarana transprtasi yang relatif efektif saya gunakan. Menjelang malam, saya meninggalkan kosan. Berjalan beberapa meter kearah jalan raya, lalu menaiki angkutan umum menuju stasiun kereta. Bagi saya selalu ada cerita dalam kereta. Berawal dari mahasiswa sastra yang selalu gagal merangkai kata untuk kekasihnya, karyawan swasta yang menyesali jalan hidupnya, pengusaha kain yang tidak bisa kembali ke kampung halamannya di Sumatera, tentara yang bangga dengan pangkatnya, pegawai negeri yang berambisi jadi jurnalis, pegiat multi level marketing yang berusaha memprospek saya dan masih banyak cerita-cerita lainnya. 

Di setiap perjalanan, bertukar cerita memang menjadi hal yang umum saya lakukan. Hal itu semata-mata untuk menghilangkan kantuk dan rasa jenuh. Hanya saja, di hari kemarin ketika saya pulang ke Bandung, saya tidak mengalami hal itu. Karena saya duduk sendiri. Daripada mati gaya, akhirnya beberapa lagu dari mp3, cukup menghibur saya. Ada satu lagu yang saya putar berulang-ulang waktu itu. Lagu itu mengingatkan akan keadaan saya sekarang ini. Ya, sebuah lagu dari Plastik yang berjudul ‘Statis’.

Namun, keadaan seperti ini jangan terus berlangsung. Seperti seorang kawan bilang, terkadang kenyamanan itu sering kali melenakan. Turun dari kereta, dengan alih-alih berdamai dengan keadaan dan berjabat erat dengan kenyataan, saya pun berusaha merubah ‘statis’ itu menjadi dinamis dan elastis. Ah, gerimis.

Bandung, 1 Maret 2012 ketika menikmati jamuan makan malam di Parkedel Bondon 

- Statis -
Oleh: Plastik.
 
Terbangun di pagi ini
Jalani hari seperti kemarin
Tak pernah ada yang menyenangkan
Lewati hari percuma
Lewati seribu tanda tanya
Seakan hanya berhenti di sini

Terjebak di dalam kemacetan
Bercampur kecewa sejuta manusia
Akankah ada yang bisa menjawab
Dipaksa kebutuhan
Rencana terasa menyiksa
Bisakah bencana ini berakhir

Harus kemana
Harus bagaimana
Lari dari yang diinginkan

Mencoba merubah hari
Mencari-cari jalan yang lain
Ternyata kembali lagi di sini
Apakah harapan cuma ada di mimpi
Tak pernah ada dalam kenyataan
Nyatanya tak pernah aku jumpai

Takkan mungkin berakhir…

Monday, October 10, 2011

bersemai damai


aku bukan satu-satunya orang yang bermimpi jika dunia ini nyaman.
sela diantara jari jemari yang Engkau ciptakan, seharusnya kami gunakan untuk saling menjabat erat tali persaudaraan.
bukan menjadi kepalan tinju yang membela hawa nafsu.
ada keserakahan yang menyebabkan kelaparan dan kesengsaraan.
negara, agama bukan lagi jaminan.
keduanya terkadang bisa dimainkan.

Tuhan, restui kami dengan jemari ini untuk saling menjabat erat tali persaudaraan.
bukan pertikaian yang kami inginkan, tapi perdamaian.

Wednesday, August 24, 2011

Jelema oh jelema


Dia diawali dengan hurup kapital didepannya
membusungkan dada
lantas membesarkan kepala
kemudian tertawa, hahahahahahaha
mereka dengan hurup kapital kecil diawalnya
menjadi kerdil oleh sesamanya
pun denganku
yang menjelma menjadi Dia dan mereka
dengan atau tanpa diawali hurup kapital didepanya, kita sama
ya, kita hanyalah manusia yang hadir dari sesuatu yang hina
lantas, apakah kita bangga menyebut diri kita manusia yang terkadang tidak manusiawi dalam menyikapi 
dunia dan isinya?