Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Monday, October 29, 2012

suatu pagi tanpa kopi



adakalanya saya suka pusing untuk mengawali hari. apalagi terjebak di suasana pagi tanpa kopi dan roti. baiklah, ada apa saja pagi ini? di mulai dari partai-partai yang lolos verifikasi, berita ‘pahit’  kinerja polisi dan tni, kisah dahlan iskan sebagai menteri, jalur narkoba dari dili, bahasa indonesia riwayatmu sebagai sarana edukasi, konsep orchard road jakarta versi jokowi, twitt centil ala syahrini, badai sandy dan pengungsi, kesuksesan pesepakbola bernama messi, dan masih banyak lagi.  setidaknya sudah ada sekitar dua ribu tiga ratus tujuh belas tulisan yang bercerita tentang ulah dan imaji manusia di bumi saat ini. dan saya terpaksa membaca semua itu tanpa kopi? ah, petaka dunia yang sedikit tidak manusiawi. 

beraneka ragam budaya dalam berbagai bahasa yang telah dibaca, menjadi asupan data di kepala. kemudian di cerna dan dijadikan pelajaran baru dalam menyikapi dunia. membaca, salah satu aktifitas manusia yang tidak boleh sirna. 

selamat pagi indonesia, tempat berlindungku di hari tua. izinkan aku membingkaimu dalam sebuah sinema.

Friday, October 19, 2012

surat dari kamar kosan


di sebuah kamar kosan yang tidak terlalu besar. terlihat beberapa macam barang berserakan. pakaian kotor menumpuk tidak beraturan di atas tempat cucian, buku - buku bergeletakan, beberapa puntung rokok bertebaran, gelas - gelas kopi menumpuk di pojokan kamar samping gitar yang hanya menyisakan dua senar, sajadah dan handuk berlipatan. kamar yang berantakan.

nyanyian lagu dari iwan fals mengalun pelan, layar komputer menyala terang, dua paragraf tulisan terlihat samar di mata seorang pemuda yang belajar menjadi dermawan. mukanya sedikit kusam, matanya kelelahan.  ada kerinduan dan juga dendam dibalik parasnya yang tidak terlalu menawan. 

pencarian terhadap kebahagiaan dan kedamaian.

secangkir kopi diseruputnya perlahan. rokok kretek dihisapnya dalam - dalam, asapnya mengepul mengitari temaram lampu pijar. tulisannya di baca berulang - ulang. kenyataannya tidak ada perubahan. menyadari akan itu, matanya terpejam, senyumnya mengembang ketika adzan shubuh berkumandang. kemudian di tulisnya perlahan, "kebahagiaan, kedamaian, adalah hasrat kemanusiaan untuk menemukan jalan menuju rumah peristirahatan, bersemayam, bersatu menuju Tuhan".






surat dari meja makan


pagi menjelang. mentari mulai menerang, membawa harapan bagi setiap insan yang akan melakukan berbagai peran dalam kehidupan. cuaca yang cerah, langit biru dibalut awan putih seperti kapas. ah, indah. jinggle rayuan pulau kelapa terdengar mengalun pelan dari radio republik indonesia yang sempat jaya pada jamannya. sudah dapat dipastikan, harga-harga sembilan bahan pokok merupakan kabar pasar yang selalu ibu nantikan, sebelum dia pergi berangkat mengajar. sedangkan bagi bapak, surat kabar dan kopi hangat itu sebuah komposisi yang pas untuk mengawali hari di bawah hangatnya sinar mentari. kakak? yang saya ingat, setelah sholat dia selalu berangkat lebih cepat. dia tidak mempunyai toleransi terhadap kata terlambat. dan dia rela mengorbankan obrolan di meja makan demi mengejar cita-citanya dimasa depan. suasana pagi hari sebuah  keluarga bahagia di selatan indonesia. sederhana, namun kaya akan cipta dan citarasa bahagia. ya, bahagia.




Friday, September 28, 2012

kerja / pekerja / bekerja / di kerjain

“...kerja keras bagai kuda / dicambuk dan didera / semua itu aku lakukan / untuk mencari uang / kurasa berat / kurasa berat / beban hidupku...”
(“jemu” di populerkan oleh: koesplus)

      Berbicara pekerjaan, tentunya tidak luput dengan seseorang yang bernama pekerja. Banyak pekerja dalam dunia kerja sejak era fir’aun di mesir sampai era digital diperlakukan dengan buruk. Hampir semua pekerja di indonesia dan mungkin di dunia seringkali berhadapan dengan berbagai  masalah seperti upah minim tentunya, outshourcing, jam kerja yang panjang, jaminan keselamatan, jaminan kesehatan dll. Kehidupan para pekerja terkadang selalu bawah ancaman. 

      Dalam dunia kerja kapitalis,  para pekerja dipaksa untuk bekerja dengan imbalan upah. Pengusaha yang mempekerjakan pekerja, seringkali membayar para pekerja kurang dari nilai pekerjaan yang mereka kerjakan. Sementara itu keuntungan-keuntungan diambil dari dari setiap tetesan keringat para pekerja itu digunakan untuk memperkuat posisi mereka (pemodal)  di pasar. Padahal para pekerja itu memiliki hak dan kepentingan bersama untuk mendapatkan bagian lebih besar dari hasil kerjanya.  Setidaknya mereka berhak untuk mendapatkan kondisi kerja yang lebih baik.

     Membangun kondisi kerja yang lebih baik itu, salah satunya bisa berarti membebaskan diri dari sistem kerja yang eksploitatif dan dapat dilakukan dengan menggunakan aksi langsung dari tempat-tempat bekerja. Aksi langsung adalah salah satu cara yang sangat efektif untuk membangun kondisi kerja yang lebih baik. Namun keberhasilannya  bergantung pada usaha para pekerja untuk membangun solidaritas sesama pekerja. Tindakan-tindakan sabotase alat-alat produksi sebagai bentuk perlawanan di tempat kerja dapat dilakukan, sebagai pelampiasan atau saran refreshing atas kepenatan bekerja. Aksi-aksi semacam ini dapat membuat anda tetap waras dalam menjalani hari-hari yang buruk di tempat kerja.

Monday, August 20, 2012

hey..hey..'power' danger


Satu...
Dua...
Tinja...
Hey..hey..'power' danger [dinyanyikan mirip theme songnya power ranger]. #gariing anjeeeeng. Setelah beberapa pekan absen ngeblog, sepertinya saya rindu mencatat kembali catatan harian saya yang hilang ini. Saya absen ngeblog bukan karena saya malas nulis, tapi karena saya lagi sangat-sangat malas melukis? Melukiskan kata-kata untuk saya tulis. Memang, ketika ditanya oleh beberapa kerabat dan sahabat sibuk apa?, saya selalu bersembunyi dibalik nyekripsi. Hehe padahal itu sekedar alibi. Biar terkesan sok serius saja.
Dua hari yang lalu, kotak pesan yang ada pada telepon selular saya mendadak penuh. Itu bukan berarti  mendadak dangdut  #gariing lagi anjeeeeng. Penuh dengan kata-kata mutiara perihal minta maaf. Dan itu membuat saya merasa senang, karena saya sudah terbiasa memberi maaf sebanyak yang kalian minta di hari-hari biasa. Tidak hanya di telepon selular, beberapa kerabat, sahabat dan man teman saya di dunia maya pun melakukan hal demikian. Meminta maaf, memberi maaf dan saling memaafkan dengan berbagai versi. Di mulai dari versi religius, versi nasionalis, V3R51 Al4y, versi aktifis, versi komedi, versi arab, versi bahasa lokal dan versi-versi lainnya. Termasuk versinya van persie. #masih gariing anjeeeeng
Manakala idul fitri tiba, seringkali banyak diantara kita [termasuk saya] setelah meminta maaf kepada orang terdekat kita [keluarga] pergi keluar rumah, berkeliling mengitari lingkungan sekitar untuk bersilaturahmi dan saling memaafkan. Tak sedikit orang juga yang pergi keluar kota untuk melakukan itu sembari bertamasya alias piknik [semacam sejenis merek dodol]. Dan ada juga perangkat negara yang melakukan open house yang berlebihan. Hal itu mungkin saja bisa jadi [bukan bisa ular] sia-sia ketika kita belum bisa memaafkan diri kita sendiri.
Memang, di negeri ini nuansa saling memaafkan ketika idul fitri tiba terasa lebih kental [walaupun tidak sekental kopi buatan mas wardi]. Dan itu sesuatu yang positif. Setahu  dan setempe saya, idul fitri itu mempunyai beberapa pengertian. Yang pertama bisa berarti kembali kepada kesucian [penghapusan atas dosa-dosa manusia olehNya], yang kedua kembali ke fitrah [dengan berpuasa ditambah zakat, kita bisa meningkatkan kualitas religiusnya dihari-hari biasa] dan yang ketiga kembali seperti bulan-bulan selain ramadhan [bulan ketika kita diperbolehkan makan dan minum disiang hari]. Jadi, tanpa harus menunggu idul fitri pun umat manusia [khususnya umat muslim] harus bisa saling memaafkan ketika berbuat kesalahan terhadap sesama manusia dan mahluk lainnya. [termasuk memaafkan mantan kekasih dan kecengan yang sudah kita sakiti perasaannya #eh]
Lah terus, hubungannya antara idul fitri dan sama halal bi halal?. [percaya saja hubungan mereka baik-baik saja]
Dalam budaya jawa, sungkeman [ngapurancang] itu diartikan sebagai sikap menghargai dan menghormati kepada yang mempunyai kuasa atau yang lebih tua. Hal itu dianggap sebagai lambang penghormatan dan minta maaf [nyuwun ngapura] ngapura merupakan istilah serapan dari bahasa arab [ghafura]. Dari situ, rasa-rasanya tujuan puasa di bulan ramadhan [meningkatkan keimanan dan ketaqwaan terhadapNya], belum terasa sempurna jika belum meminta maaf terhadap sesama manusia. Nah, di sinilah para ulama mempunyai ide, bahwa di hari idul fitri itu antara seorang dengan yang lain perlu saling memaafkan kesalahan masing-masing, yang kemudian dilaksanakan secara kolektif dalam bentuk halal bihalal. Jadi, disebut hari lebaran, karena puasa telah lebar [selesai], dan dosa-dosanya telah lebur [terhapus].
Oiya, satu lagi. Maafkan saya jika saya salah satu, salah kostum, salah sambung, salah alamat, salah sasaran, salah asuhan, salah mention, salah jurusan dan salah solihun.



Monday, February 20, 2012

Di bawah Pohon Rindang

Malam terasa dingin disini. Bahkan terasa lebih dingin dari biasanya. Semilir angin malam merasuk kedalam relung ini melalui celah – celah ingatan yang penuh akan kealpaan. Satu persatu raut wajah kalian datang menghampiri. Ada yang datang dengan wajah sumringah, wajah yang memancarkan kebahagiaan. Ada juga wajah – wajah sayu, gundah dan gelisah. Lalu  wajah kesal dengan penuh amarah. Atau wajah yang biasa. Biasa saja, tidak ada ekspresi dalam air mukanya. Tapi itu semua menjadi tidak penting lagi bagiku, setelah kita semua duduk bersamaan, berbagi cerita sambil menikmati beberapa cangkir kopi dan beberapa batang rokok. Dulu hal itu kami lakukan semata – mata hanya untuk membunuh waktu menunggu jam perkuliahan, sengaja bolos meninggalkan kuliah atau sekedar ‘cuci mata’ menikmati paras – paras yang rupawan dari segelintir mahasiswi yang beredar disekitaran kampus.

Jadi ingat kata seorang kawan “dulu kalau nyari anak – anak itu gampang, tinggal main ke kantin, duduk, menyalakan rokok dan memesan secangkir kopi, tak lama setelah itu teman – teman datang menghampiri”. Di sepertiga malam ini, aku merindukan kalian. Merindukan tawa kalian, tawa yang bukan di wakili oleh icon yang ditawarkan yahoo mesangger. Merindukan obrolan hangat kalian, bukan obrolan seperti di timeline twitter. Merindukan komen kalian, bukan komen – komen seribu karakter dari facebook yang diakhiri dengan jempol like this. 
 
Terlalu egois memang, jika rasanya aku memaksakan kita hadir kembali seperti keadaan lima atau tujuh tahun yang lalu itu. Kalau pun kita bisa hadir dan bertemu seperti keadaan dulu, momen apakah itu? Di sepertiga malam ini aku hanya bisa menjawab dengan judul lagunya iwan fals. Entahlah.

Dari sini, aku titip rindu dan do’a untuk kita semua. Semoga kita ada dalam keadaan yang senantiasa baik – baik saja.

Tuesday, July 19, 2011

antara cowok tomboy, astri ivo & sms


Malam itu, tidak biasa dan luar biasa bersenggama menjadi sesuatu yang biasa. Hehehehe, biasanya saya berpergian mengendarai vespa, karena tiga dan lain hal saya memilih untuk menggunakan jasa angkutan umum. Biasanya ujang koim menyebut itu dengan kata angkot. Dan malam itu saya menaiki angkot  bersama simanehna (semacam penyejuk hati gitu deh J).
Seingat saya, di dalam angkot itu ada sepuluh orang waras ditambah seorang supir yang sedikit mengantuk. Saya yang sedari awal naik angkot  kebagian duduk di depan pintu masuk. Banyaknya penumpang, membuat saya merasa sedikit gerah. Dan semakin gerah ketika di pantatin oleh penumpang yang merasa dirinya cantik (padahal dia cowo tomboy) yang akan hendak turun, (entah disengaja atau tidak) masih sempat memamerkan belahan pantat yang memang terlihat seperti kulit jeruk berwarna coklat.
Bukan maksud memalingkan muka dari pemandangan yang demikian adanya, saya pun melirik kearah pacar saya sambil berkata “ah sia gelloooo waas ku halimpu na”. terlihat beberapa penumpang tersenyum malu malu melihat gelagat saya. Tak lama setelah cowo tomboy itu turun, seorang perempuan berkerudung yang mirip Astri ivo meminta supir angkot untuk menepi. “Mang kiri mang”. Mendengar titah itu, Pak supir pun memperlambat dan menepikan mobilnya ke pinggir jalan. Lalu,perempuan itu pun beranjak dari tempat duduknya dan turun. Saya tidak memperhatikan apa yang sedang terjadi, hanya saja rasa-rasanya telinga saya (mungkin penumpang lainnya juga) mendengar dengan jelas perbincangan sekejap itu. “Loh Pak? Kok ngga ada kembaliannya?”. “Emang darimana kitu neng?”  balas Pak supir sambil memeriksa kembali uang pemberian  Astri ivo kw super itu. “Dari tadi Pak, eh maksudnya dari be i pe Pak”. Saya, pacar saya dan beberapa penumpang hanya bisa tertawa kecil mendengar percakapan itu.
Tak cukup sampai disitu, setelah kami tertawa kecil, saya dengan tanpa sengaja membaca isi dari sebuah pesan singkat penumpang disebelah kanan saya. Kalau tidak salah isi pesan singkatnya “iya yang, bntr lg aku k sana. aa syng ayang” . Pesan singkat itu setelah diketik lalu di kirim kepada seorang penerima yang bernama yayang titi. Pesan yang singkat, sesingkat perjalanan saya dari perempatan B.I.P menuju perempatan sate anggrek.
18 juli 2011, manakala asap sate anggrek [lagi-lagi] mengganggu kenyamanan mata saya

Thursday, July 14, 2011

sate anggrek grek


Kendati pun yang semua terjadi bisa terulang lagi dan saya diberi kesempatan dua kali, itu bukan berarti saya akan mampir ditempat itu.
Awalnya, setelah selesai shoting saya dan beberapa teman hendak mencari makan. Rasa yang lelah mungkin bisa terobati dengan makan makanan yang enak pikir saya. Seorang kawan yang biasa di paggil nanda (bukan nama samarannya) memberi ide untuk makan sate. Pun dengan teman saya yang bernama dimas nur mengamini itu.
Singkat kata, saya dan teman-teman saya segera menuju tempat makan itu yang kebetulan searah dengan tempat saya bekerja.
Ya, sate anggrek. Mungkin sate ini cukup termasyur di kalangan penjelajah wisata kuliner di Bandung. Kamera, tripod, lampu dan beberapa alat shoting lainnya saya letakkan di bawah meja. Pada saat itu, kami berempat merasa lapar memang, maklum hari itu hari yang melelahkan sekaligus melelehkan karena matahari dan tempat pembakaran sate terasa panas saya rasakan.
Setelah duduk santai, saya pun hendak memesan sejumlah makanan. “Mba, saya pesan sate kambing dua puluh dan sapi dua puluh” pesan saya kepada pemilik kedai itu. “Makan disini mas? Yaudah duduk aja dulu, nanti ada pelayan yang menghampiri kalian” jawab perempuan itu dengan judes. Tak lama setelah itu, sorang pelayan datang menghampiri kami “Makan disini mas? Pesan apa? [lagi-lagi nadanya kurang enak didengar].
            Entahlah, rasa tersinggung saya sedikit hilang setelah saya melihat raut muka teman saya. Tanpa ambil pusing, saya segera mengambil kamera dan mengambil beberapa foto kedai sate itu.




            Makanan sudah dalam perut dan mungkin besok pagi akan bersatu kembali dengan bumi. Tak lama setelah kami makan, kami membayarnya dan segera pergi menjauhi kedai itu. Diperjalanan saya sempat berfikir “setau saya, seorang pedagang yang baik dia seharusnya bisa melayani tamunya dengan baik pula. Tapi apa yang saya alami hari ini, tidak demikian” mungkin dia sedang banyak masalah kali, fikir saya.
            Namun, seperti yang saya ungkapkan di awal, kendatipun saya diberi kesempatan dua kali, rasa-rasanya saya lebih memilih kedai sate yang jauh lebih ramah dan tentunya lebih enak dari kedai sate yang bertempat diperempatan jalan riau dan anggrek itu. Itu tu kedai sate yang asapnya mengganggu para pengguna jalan.

Friday, June 24, 2011

Manfaat rokok pan versi humor


Whuataaaaaa,
Jam empat seperempat. Kiranya itu yang saya lihat. Ini sudah shubuh memang. Diluar, bisa saja ibu-ibu sudah pergi kepasar, hansip-hansip sudah beranjak pulang, sebagian ayam sudah berkokok, orang galau sudah menulis sajak, yang rajin mungkin sudah pergi ke masjid. Banyak ceritany ketika shubuh tiba.
Entah apa yang membuat saya begadang. Saya juga kurang tahu, harap ma’lum terkadang kita lupa atau mungkin tidak mengenal siapa diri kita. Yang pasti, saya berterima kasih kepada seorang kawan yang telah bersedia memberikan sebungkus rokok. Lumayan, untuk teman begadang.
Jadi ingat, ngomong-ngomong rokok, beberapa waktu yang lalu tanpa unsur kesengajaan, teman saya itu menemukan artikel tentang manfaat rokok. Salah satunya, rokok itu bisa di jadikan obat. Dan menurut saya, itu hebat. Kalau boleh saya tambahkan, ternyata manfaat rokok (bagi saya) tidak hanya sampai disitu. Ternyata manfaatnya bisa lebih, hehehe. Misalnya, rokok itu bisa menjadi salah satu indikator kesehatan. Kalau masih kuat merokok, berarti masih sehat.
Itu baru satu, belum yang kedua. Dua anak cukup. Itu tagline BKKBN. Ternyata e ternyata, merokok juga bisa membantu program KB. Karena rokok, konon katanya bisa menyebabkan impotensi dan gangguan kehamilan. #gubraggg
Ini sudah shubuh memang, dan lagi-lagi katanya kalau sudah shubuh itu biasanya maling-maling sedang beraksi (kalau maling hati? Ups, curcol). Kembali lagi pada manfaat rokok. Rasa-rasanya merokok itu bisa mengurangi tindakan kriminal. Sampai saat ini saya belum pernah mendengar apalagi menyaksikan orang merampok, menjambret dan lain-lain, sambil merokok. Paling banter golok yang mereka pegang :p
Bisa juga tidak hanya mengurangi perampokan kawan. Saya rasa merokok juga bisa mengurangi tindakan asusila. Belum pernah juga kan melihat kasus perkosaan sambil merokok? Malahan yang ada juga di rokok, ups :D
Nah, kalau manfaat yang ini juara gan. Menurut saya ( eta age ceuk aing anu bodo jeung can lulus kuliah / itu juga kata saya yang bodoh dan belum lulus kuliah) ternyata merokok bisa menambah devisa negara. Tapi angger we loba nu miskin, koplak siah! (Tapi tetap saja banyak yang miskin, “koplak siah” ; plesetan dari koplok = goblog).
Manfaat lainnya, dengan prodak yang namanya rokok ini, kita bisa membantu mencerdaskan kehidupan bangsa. Hehehehe, soalnya sekarang lagi banyak banget program beasiswa dari perusahaan penghasil rokok. Tapi, saya belum pernah dapet tuh J
Rokok bisa membuat orang menjadi taat ibadah. Pasalnya, satahu saya banyak para petani tembakau yang bisa berangkat naik haji. Ya, walaupun mereka terkadang lupa untuk turun haji.
Permisi ke toilet dulu ya, tadi sebelum tengah malam saya sempat makan makanan pedas. Jadinya sekarang saya mau boker dulu. #sfx: plung…plung…plung….biurrrrrrr
Maaf, agak sedikit lama. Rasa-rasanya, gara-gara  saya boker di toilet, kayaknya manfaat rokok bisa bertambah lagi deh. Saya rasa rokok bisa menjadi pengharum ruangan. Ya setidaknya bagi saya, ternyata ketika kita lagi boker itu bisa menyamarkan bebauan yang keluarkan itu, hehehehe….
Itu tadi manfaat lain daripada rokok. Sedikit info tambahan, perlu kawan-kwan ketahui kalau orang yang tidak merokok itu penyakitnya banyak. Ada yang sakit ginjal, katarak, kangker payudara, mag, aids, rorombeheun jeung sajabana we lah. Tapi perokok itu penyakitnya cuma satu. Sakit paru-paru. Dan info tambahan lainnya, sangat jarang ditemukan seorang perokok itu masuk UGD. Tahu kenapa? Ya, bisa saja sebelum masuk UGD dia sudah tewas, hehehehe….
Itu tadi [lagi] beberpa pakta (baca: fakta, ma’lum saya orang garut) yang saya tulis. Permasalahan anda merokok atau tidak itu bukan masalah bagi saya. Toh ternyata, saya bisa menemukan sisi lain dan sisi prisilia dari rokok J
***
 Ditulis dalam keadaan sadar, sesadar-sadarnya sadar hussein :)


 (foto di copy dari blognya teman (bani hudaya, dan ini link urlnya: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgYt-5NXO0Z1gjZ4KSx95rABp7GzmhDY5pO-SdwOFRvFeWIpSyGgSpe4VWwLWGcV3YNvcSNHl4auuS8bGQtNtLFFX-kJ8wQz9KRJUGOpF7QP4RK3KaQyWIwAlJsgCxPAIFnrdDDziuY7MA/s1600-h/by+maru.jpg)

Saturday, January 22, 2011

Rindu Film

Film, adalah anugerah seni terbesar dalam peradaban manusia. Ucap joni (nicolas saputra) dalam film Janji Joni. Ada yang bilang film itu sebuah karya intelektual. Karena didalamnya berbagai tradisi ilmu diramu dan disajikan kepada penonton. Penyajian kembali atas sesuatu fenomena sosial menjadi suatu tontonan tentunya bukan hal yang mudah. Dan saya merasa sepakat dengan pernyataan diatas. Memang, ada juga beberapa sineas atau pun film maker membuat film mereka dengan gaya mereka sendiri (film aing kumaha aing, dibaca: film saya terserah saya). Saya juga tidak bisa menyalahkan pernyataan itu. Karena itu hak mereka. Bagi saya, membuat film itu adalah membuat ilusi. Yang didalamnya terdapat prinsip reka percaya. Maka dari itu ketika kita akan membuat sebuah ilusi yang akan disajikan kembali melalui medium film, kita harus memahami dua hal. Yang pertama adalah mengetahui dan memahami keadaan masyarakat dan yang kedua adalah seorang film maker harus mempunyai hasrat untuk menggugat sesuatu yang berangkat dari keresahan mereka sendiri.

Mengutip kata Jean Cocteau, seorang pujangga dan filmmaker dari Perancis. “Film is Picture writing”. Membuat film itu bukan semata-mata mengurusi permasalahan teknis. Tapi ada hal lainnya yang memerlukan perhatian lebih. Yaitu menulis dan menyajikan kembali sebuah ilusi. Ilusi yang dituangkan kedalam sebuah naskah, harus benar-benar kaya akan data, imajinasi, wawasan yang luas dan kreatifitas yang baik. Sehingga, ketika itu disajikan kembali dalam bentuk medium film dengan teknis yang seadanya pun bisa tetap enak dinikmati penonton karena unsur reka percayanya tidak hilang karena telah dirangkai dengan baik.

Ketika film sudah jadi, sering kali bagi para pembuat film yang berbasis komunitas atau kampus yang saya temui, mereka dipertemukan dengan kendala lagi. “Film kami akan dikemanakan?” lebih kurang pertanyaan seperti itu yang muncul dibenak mereka. Menyambung kata penyajian kembali, saya lebih suka kalau film-film yang telah diproduksi itu tidak menjadi hiasan kamar. Tapi wajib dipertontonkan kepada khalayak, dimana pun itu tempatnya. Anggap saja itu adalah bentuk pertanggung jawaban atas sebuah kekaryaan yang merepresentasikan dari suatu keadaan.

Itulah sedikit tulisan mengenai film dari kacamata saya.

Saturday, January 15, 2011

mahasiswa ko gitu! ngik ah!

"seribu saja.....seribu saja....tetehnya cantik....

seribu saja....seribu saja....aa-nya ganteng...."


riuh suara muda-mudi bermodalkan tepok tangan dan guitar fals menambah suasana bising jalanan ir. haji juanda kala sabtu malam. bising. rasa-rasanya saya kecewa dengan mereka. mahasiswa ko ngga kreatif!

coba bayangkan, jauh-jauh dari berbagai kota dipelosok negeri ini mereka hanya melakukan hal konyol seperti itu.

hei, tahukah kalian? dengan mencari dana seperti itu, kalian tampak idiot di hadapan saya! tak hanya itu, kalian juga berisik! tidak kalah berisik dengan knalpot motor bobokan! kalian juga membuat jalanan ini macet! dan kalian juga telah meminimalisir penghasilan seniman jalanan!

ah, seandainya mereka lebih kreatif sedikit, mungkin tidak hanya 80 ribu yang kalian dapat, kalian bisa saja mendapatkan 1,5 juta semalam.

(dago, 11 desember 2010)

lamunan toilet part 3

Gara-gara sesuatu yang tersaji dalam sebuah piring,
orang bisa jadi berperang.
Senjata yang digunakan pun bukan lagi parang.
Tapi, suatu senjata pembunuh masal yang katanya diciptakan orang berambut pirang.

-didapur ketika rindu kepada einstein, manusia periang-

lamunan toilet part 2

Entah kebiasaan buruk atau apa, ketika saya sedang berada di toilet, saya akan merasa lebih nyaman melakukan buang hajat sambil menikmati sebatang rokok atau sambil mendengarkan musik. Tadi sore sesudah buka puasa dengan beberapa buah gorengan dan minuman kaleng, perut saya merasa kurang enak. Saya pun lekas meuju kamar mandi, untuk buang hajat. Lagu "Pangguang sandiwara" yang dipopulerkan oleh Achmad Albar, sayup-sarup terdengar dari arah kamar saya.

".....Dunia ini panggung sandiwara ceritanya mudah berubah....."

Entah karena tidak baca do'a sebelum masuk toilet, atau karena kesurupan jn iprit, tiba-tiba, lagu itu perlahan saya resapi. Sambil iseng saya mencoba mengingat perkembangan dunia seingat saya. Saya merasa dunia ini berkembang dengan jalan yang tidak sama. Beberapa hal yang dilakukan dengan cara besar di garis bawahi atau di stabilo sehingga menjadi sejarah dunia ini. Sementara, cara-cara sederhana kini mengendap dalam sepiring kenangan di benak setiap orang. Para leluhur mengisahkannya, kita yang hidup di jaman sekarang mengingatnya. Banyak yang bermakna pembaharuan dan kemajuan, sisanya berupa keburukan dan kejahatan justru kita bekukan di mesin-mesin pendingin ruangan higga kita seperti enggan menjadikannya memori.

Kalau ngga salah, gara-gara matinya seorang pangeran muda dari Austria, tak lama setelah itu ribuan mayat terkapar di negara-negara eropa. Ya, beruntunglah dunia ini masih dapat menyisakan ruang untuk kenangan atas Houdini, sang magisian-praktis. Ada juga seorang Jerman berkumis aneh yang berusaha memetakan sejarah rasial yag lain di kamp-kamp kosentrasi yang kemudian dihisap secara massal dengan racun gas pembantaian. Dan jauh sebelum Steven Spielberg menggambarkannya dalam film Schlinder's List, Charlie Chaplin sudah melakukannya lewat akting-akting film bisu. Selalu ada yang kontradiktif sekaligus resisten. Penentangan dilakukan di setiap jaman dengan caranya masing-masing.

Kita juga bisa melihat nada yang sama dalam hal penentangan kelaliman. Dibalik suara melodiusnya Frank Sinatra tidak sebanding dengan hardikan lagu-lagu RATM yang bikin pekak. Kita mestinya mencari tahu jangan-jangan Sinatra lebih bersikap sosialis daripada Zack De La Rocha? Tak usah jauh, ditempat kita saja Koes Plus yang sibuk bersyair cinta dianggap kapitalis walau mereka bingung atas tudingan serampangan itu. Ya, mungkin ini bisa diartikan telunjuk kita tidak seharusya dilayangkan sekenanya. Ketika kita sibuk menilai sangatlah mungkin penilaian tersebut tidak diperlukan arena rel sejarah kita sepertinya lebih banyak bersifat relatif dari pada kalkulatf.

".....Setiap insan dapat satu peranan, yang harus kita mainkan...."

Apa yang bisa dibilang oleh para moralisjika mereka memelototi polah kaum muda pemadat yang enteng saja dengan lingkungannya seperti dalam film Trainspotting? Atau seperti dalam lirik Homicide "sejak parameter pahala diukur dengan seberapa banyak kepala yang kau pisahkan dengan nyawa?" dan bagaimana dengan mereka yang hanya bisa menegakan lafadz-lafadz Alloh di pegunungan? Demarkasi itu tak lagi berarti. Ada yang harus bergerak dalam pkiran manusia, hari ini jahat dan esok lusa entah: jadi baik atau makin munafik. Namun biarkan saja toh dia mengijinkan punggungnya dibebani risiko untuknya sendiri. "Time and time time again, you think about yourself before you think about me", kata Papa Roach dalam lagunya yang berjudul"Time and time again". Ada pengalaman, kebaruan dan perkembangan, walaupun mungkin tak sepenuhnya dengan konvensi publik.

Dari jaman Ghandi dengan swadesi sampai lirik-lirik punk rock semacam Propaghandi kita tahu tidak ada kebaruan yang orisnal. Jauh sebelum SOAD yang protes dengan perang dalam lagu "boom!" sex pistol pernah membuat single " anarchy in The UK" atau di negeri kita, sebelum band punk asal bandung, Jeruji mengenalkan tagline "Lawan" Wiji tukul yag tergabung dalam jaringan kesenian rakyata sudah meneriakan itu di masa sebelumnya yang membuat dirinya hilang entah kemana.

Dunia adalah kereta, litasan sejarah segenap buana adalah relnya. Setiap stasiun yang dijelang kereta menjadi area persinggungan banyak badan dan pikiran: orang-orang hilir mudik menuju peron, bersenda gurau atau mengantuk, menunggu berangkat, ditunggu sanak beranda. Ada yang bertegur sapa, ada yang diam-diam bermaksud menyikat harta milik orang disampingnya. Setiap peluit tanda berangkat dibungikan, hanya kereta dan relnya yang bersepakat menuju titik pemberhentian berikutnya. Hingga kelak tiba di ujung perjalanan: stasiun terakhir.

* Disadur dari buku: berontak [bukan] tanpa sebab