Sunday, April 15, 2012
Wednesday, March 28, 2012
raport merah ini
terima kasih,
terima kasih,,
terima kasih,,,
nama saya kartiwa,
dengan hurup kecil di depan,
dan embel-embel kara bayanaka di belakangnya.
perlu dicatat,
sebenarnya saya berterima kasih kepada kalian semua
yang telah mencari-cari kesalahan
dan kekurangan saya.
tapi maaf,
saya belum bisa membalasnya.
biarlah Dzat yang lebih berwenang atas itu.
saya tidak cukup cerdas dan pintar memang,
tapi,
setidaknya saya masih bisa berpikir jernih
ketika harus membedakan mana sendok
dan yang mana garpu.
dan saya tahu betul bersih atau tidaknya tangan saya,
ketika saya akan makan.
Kosan Part I
Malam terasa dingin. Dingin sekali. Semilir angin malam terasa menusuk rongga tubuhku lalu menyentuh relungku. Kemudian membeku. Sekejap kulihat dalam bayangan yang penuh kealpaan, sebuah keluarga sudah lama aku 'tinggalkan'. Disana ada Ayah, Ibu, Kakak dan aku. Teh hijau, kue kering buatan Ibu dan obrolan tentang masa depan membuat suasana terasa tenang dan nyaman. Dengan senyum mengembang sambil memejamkan mata perlahan aku simpan memori indah itu dalam ingatan. Ah, aku selalu rindu rumah dan kampung kampung halaman.
Terkadang, keadaan selalu tidak bersahabat dengan kenyataan. Nyatanya, sebuah pesan singkat dari ibu kosan membuat lamunanku menjadi buyar. “iwa, besok ibu akan ke kosan”. “Baik Bu”. Aku membalas pesan singkat itu dengan singkat, padat dan jelas. Perasaan cemas menghampiriku ketika aku mengambil dompet di saku celana jeans lusuhku. “Waw, cuma ada lima belas ribu, bagaimana aku membayar sewa kosanku?”. Ah, malam itu aku hanya bersepakat dengan salah satu judul lagu Iwan fals yang berjudul “Entah”. Dan malam itu aku hanya bisa mengakhiri aktifitasku dengan menulis blog, lalu tidur dalam keadaan menahan lapar.
Lucunya, ketika pagi hari dan ibu kosan sudah ada, dia datang bukan untuk menagih uang sewa kosan. Dia datang untuk memberikan undangan pernikahan anaknya. "kalau memungkinkan, ibu dan keluarga jika kalian dapat hadir di acara syukuran pernikahan anak kami". Ucap ibu kosan di sela-sela obrolan. Ah ibu, aku pikir...
Friday, March 2, 2012
Statis
Sudah beberapa hari ini, kereta malam menuju ibukota menjadi sarana transprtasi yang relatif efektif saya gunakan. Menjelang malam, saya meninggalkan kosan. Berjalan beberapa meter kearah jalan raya, lalu menaiki angkutan umum menuju stasiun kereta. Bagi saya selalu ada cerita dalam kereta. Berawal dari mahasiswa sastra yang selalu gagal merangkai kata untuk kekasihnya, karyawan swasta yang menyesali jalan hidupnya, pengusaha kain yang tidak bisa kembali ke kampung halamannya di Sumatera, tentara yang bangga dengan pangkatnya, pegawai negeri yang berambisi jadi jurnalis, pegiat multi level marketing yang berusaha memprospek saya dan masih banyak cerita-cerita lainnya.
Di setiap perjalanan, bertukar cerita memang menjadi hal yang umum saya lakukan. Hal itu semata-mata untuk menghilangkan kantuk dan rasa jenuh. Hanya saja, di hari kemarin ketika saya pulang ke Bandung, saya tidak mengalami hal itu. Karena saya duduk sendiri. Daripada mati gaya, akhirnya beberapa lagu dari mp3, cukup menghibur saya. Ada satu lagu yang saya putar berulang-ulang waktu itu. Lagu itu mengingatkan akan keadaan saya sekarang ini. Ya, sebuah lagu dari Plastik yang berjudul ‘Statis’.
Namun, keadaan seperti ini jangan terus berlangsung. Seperti seorang kawan bilang, terkadang kenyamanan itu sering kali melenakan. Turun dari kereta, dengan alih-alih berdamai dengan keadaan dan berjabat erat dengan kenyataan, saya pun berusaha merubah ‘statis’ itu menjadi dinamis dan elastis. Ah, gerimis.
Bandung, 1 Maret 2012 ketika menikmati jamuan makan malam di Parkedel Bondon
- Statis -
Oleh: Plastik.
Terbangun di pagi ini
Jalani hari seperti kemarin
Tak pernah ada yang menyenangkan
Lewati hari percuma
Lewati seribu tanda tanya
Seakan hanya berhenti di sini
Jalani hari seperti kemarin
Tak pernah ada yang menyenangkan
Lewati hari percuma
Lewati seribu tanda tanya
Seakan hanya berhenti di sini
Terjebak di dalam kemacetan
Bercampur kecewa sejuta manusia
Akankah ada yang bisa menjawab
Dipaksa kebutuhan
Rencana terasa menyiksa
Bisakah bencana ini berakhir
Bercampur kecewa sejuta manusia
Akankah ada yang bisa menjawab
Dipaksa kebutuhan
Rencana terasa menyiksa
Bisakah bencana ini berakhir
Harus kemana
Harus bagaimana
Lari dari yang diinginkan
Harus bagaimana
Lari dari yang diinginkan
Mencoba merubah hari
Mencari-cari jalan yang lain
Ternyata kembali lagi di sini
Apakah harapan cuma ada di mimpi
Tak pernah ada dalam kenyataan
Nyatanya tak pernah aku jumpai
Mencari-cari jalan yang lain
Ternyata kembali lagi di sini
Apakah harapan cuma ada di mimpi
Tak pernah ada dalam kenyataan
Nyatanya tak pernah aku jumpai
Takkan mungkin berakhir…
Monday, February 20, 2012
Di bawah Pohon Rindang
Malam terasa dingin disini. Bahkan terasa lebih dingin dari biasanya. Semilir angin malam merasuk kedalam relung ini melalui celah – celah ingatan yang penuh akan kealpaan. Satu persatu raut wajah kalian datang menghampiri. Ada yang datang dengan wajah sumringah, wajah yang memancarkan kebahagiaan. Ada juga wajah – wajah sayu, gundah dan gelisah. Lalu wajah kesal dengan penuh amarah. Atau wajah yang biasa. Biasa saja, tidak ada ekspresi dalam air mukanya. Tapi itu semua menjadi tidak penting lagi bagiku, setelah kita semua duduk bersamaan, berbagi cerita sambil menikmati beberapa cangkir kopi dan beberapa batang rokok. Dulu hal itu kami lakukan semata – mata hanya untuk membunuh waktu menunggu jam perkuliahan, sengaja bolos meninggalkan kuliah atau sekedar ‘cuci mata’ menikmati paras – paras yang rupawan dari segelintir mahasiswi yang beredar disekitaran kampus.
Jadi ingat kata seorang kawan “dulu kalau nyari anak – anak itu gampang, tinggal main ke kantin, duduk, menyalakan rokok dan memesan secangkir kopi, tak lama setelah itu teman – teman datang menghampiri”. Di sepertiga malam ini, aku merindukan kalian. Merindukan tawa kalian, tawa yang bukan di wakili oleh icon yang ditawarkan yahoo mesangger. Merindukan obrolan hangat kalian, bukan obrolan seperti di timeline twitter. Merindukan komen kalian, bukan komen – komen seribu karakter dari facebook yang diakhiri dengan jempol like this.
Terlalu egois memang, jika rasanya aku memaksakan kita hadir kembali seperti keadaan lima atau tujuh tahun yang lalu itu. Kalau pun kita bisa hadir dan bertemu seperti keadaan dulu, momen apakah itu? Di sepertiga malam ini aku hanya bisa menjawab dengan judul lagunya iwan fals. Entahlah.
Dari sini, aku titip rindu dan do’a untuk kita semua. Semoga kita ada dalam keadaan yang senantiasa baik – baik saja.
Friday, January 6, 2012
Dokter, jangan kau suntik lagi ibuku
Berbicalah dengan perlahan dan lembut.
Bukan lirih.
Aku bisa melihat itu dari matamu.
Tahan. Jangan sampai engkau meneteskan airmatamu.
Cukup sampai berkaca-kaca saja.
Dan jangan kau batuk-batuk lagi. Itu akan membuatmu semakin sakit.
Dan tentunya,
sesak yang engkau rasakan itu bukan hanya di organ bernama paru-paru,
tapi juga sesak yang menyesakkan relungmu.
Aku di sini, bersamamu.
Lihat itu, bunga anggrek kesukaanmu aku petik dari halaman rumah kita.
Dapatkah kau mencium baunya?
Harum bukan?
Mungkin aku belum bisa sewangi bunga itu.
Tapi suatu saat, dengan restumu aku bisa saja lebih harum dari itu.
Jadi ijinkan aku berada disampingmu ketika kau terbaring lemas disini.
Diruangan yang penuh dengan benda-benda yang akau benci.
Terutama jarum suntik. Dan kau tahu itu kan?.
Bukan lirih.
Aku bisa melihat itu dari matamu.
Tahan. Jangan sampai engkau meneteskan airmatamu.
Cukup sampai berkaca-kaca saja.
Dan jangan kau batuk-batuk lagi. Itu akan membuatmu semakin sakit.
Dan tentunya,
sesak yang engkau rasakan itu bukan hanya di organ bernama paru-paru,
tapi juga sesak yang menyesakkan relungmu.
Aku di sini, bersamamu.
Lihat itu, bunga anggrek kesukaanmu aku petik dari halaman rumah kita.
Dapatkah kau mencium baunya?
Harum bukan?
Mungkin aku belum bisa sewangi bunga itu.
Tapi suatu saat, dengan restumu aku bisa saja lebih harum dari itu.
Jadi ijinkan aku berada disampingmu ketika kau terbaring lemas disini.
Diruangan yang penuh dengan benda-benda yang akau benci.
Terutama jarum suntik. Dan kau tahu itu kan?.
Friday, November 25, 2011
Friday, October 28, 2011
Menunggu waktunya
Disebuah kamar sempit yang berantakan, Anton terlihat sedikit sadar. Dia terlentang diatas kasur yang sudah tidak empuk lagi. Jaket jeans dan sepatu kusam itu masih menempel di badannya yang kini mengurus. Terlihat digenggaman tangan kanan Anton sebuah botol vodka yang menyisakan tumpahannya diatas karpet. Kini tumpahan alkohol itu mengenai ujung sajadah pemberian dari kekasihnya. Kepalanya terasa pusing dan matanya terasa berat ketika ia berusaha duduk. Pagi itu dunia terasa bergerak begitu lamban di pikiran Anton. Dengan sedikit sisa tenaga yang dimilikinya, perlahan – lahan Anton berusaha bangkit untuk duduk. Lalu menyenderkan diri pada tembok kamarnya. Kepalanya tertunduk lemas. Mulutnya menganga. Terlihat tetesan air liur keluar dari mulut Anton membasahi dagu dan resletingnya. Lalu, dengan punggung tangan kirinya Anton berusaha mengelap air liur yang tersisa di dagunya. Kini dia terdiam lemas. Sekedar menggerakan kelopak mata pun Anton tidak sanggup melakukannya.
Lain halnya Anton, lain juga Mita. Pagi itu dibalik ruangan dingin ber-AC, mita masih terjaga dari waktu istirahatnya. Rasa kantuk yang menerornya, ia lawan dengan menepuk – nepuk pipi dengan kedua tangannya yang lembut. Kemudian dia melirik kearah layar monitor komputer. Dan…
Korban
Petugas: nama?
Korban: prihatini
Petugas: alamat?
Korban: student warior fourty five street
Petugas: status?
Korban: @ kantor polisi lagi bikin surat kehilangan, hufftt semangat….
Petugas: ya..ya..ya..kamu memang korban…
Monday, October 10, 2011
bersemai damai
aku bukan satu-satunya orang yang bermimpi jika dunia ini nyaman.
sela diantara jari jemari yang Engkau ciptakan, seharusnya kami gunakan untuk saling menjabat erat tali persaudaraan.
bukan menjadi kepalan tinju yang membela hawa nafsu.
ada keserakahan yang menyebabkan kelaparan dan kesengsaraan.
negara, agama bukan lagi jaminan.
keduanya terkadang bisa dimainkan.
Tuhan, restui kami dengan jemari ini untuk saling menjabat erat tali persaudaraan.
bukan pertikaian yang kami inginkan, tapi perdamaian.
Wednesday, August 24, 2011
Jelema oh jelema
Dia diawali dengan hurup kapital didepannya
membusungkan dada
lantas membesarkan kepala
kemudian tertawa, hahahahahahaha
mereka dengan hurup kapital kecil diawalnya
menjadi kerdil oleh sesamanya
pun denganku
yang menjelma menjadi Dia dan mereka
dengan atau tanpa diawali hurup kapital didepanya, kita sama
ya, kita hanyalah manusia yang hadir dari sesuatu yang hina
lantas, apakah kita bangga menyebut diri kita manusia yang terkadang tidak manusiawi dalam menyikapi
dunia dan isinya?
Tuesday, August 9, 2011
ambil hikmahnya saja [lama ngampus]
disebuah kantin. sedikit panas udara hati itu. boleh dibilang sepanas perasaan ketika kecengan di gandeng teman seperjuangan. ah, naif. sekedar menghilangkan rasa panas ini, saya pun memesan segelas minuman ringan. kopi hitam panas. lah? ko kopi hitam panas? gampang saja. jika negatif di gabung negatif maka akan posoitif. jadi jika cuaca panas di campur kopi panas, katanya akan dingin -_-
seiring berjalannya waktu, kopi ini mulai dingin. kemudian beberapa teman mulai menghampiri. "eh wa, ko kamu masih dikampus aja?" ucap bunga (bukan nama sebenarnya). "wajar, kan masih mahasiswa. mahasiswa itu selain belajar, tugasnya itu harus ke kampus". jawab saya datar. "oiya, kamu teh kuliah ngambil apa?" tanya bunga [lagi]. "oh, saya mah ambil hikmahnya aja". kembali jawab saya datar -_-
(manakala teringat jalan menuju kampus)
Wednesday, August 3, 2011
Friday, July 29, 2011
Akibat ngopi kala sepertiga malam
Dalam sebuah obrolan kecil diantara kami yang baru saja melepas lelah setelah seharian penuh beraktifitas. Beberapa cangkir kopi tersaji diatas sebuah meja yang sedikit terlihat kurang rapi. Ah, lupakanlah mengenai kerapihan. Ijinkanlah kami untuk sedikit melapas lelah ini. Toh pada akhirnya, besok setelah matahari pagi terbit kita akan segera mengisi hari dengan aktifitas berbeda yang relatif sama. Mengisi waktu luang sebelum kita menutupkan kedua mata ini. Itu pikirku.
Lihat saja temanku yang bernama Nanda. Pemuda tanggung ini lebih asyik selonjoran diatas kursi yang memang nyaman. Ada juga Bobby, pria berbadan besar dan sedikit imut itu sedikit menghibur kami dengan berbagai cerita lucu. Atau obos Nova, begitu panggilannya, yang lebih menikmati untuk mengompori Bobby bercerita lebih lanjut. Dimas nur pun demikian. Menikmati obrolan santai ini dengan mendengarkan dan sesekali bertanya atau mengomentari apa yang sedang kita bicarakan. Saya disini hanya mendengarkan dan memperhatikan kata demi kata yang keluar mulut mereka.
Kata-kata yang masih saya ingat sampai sekarang kurang lebih berbunyi seperti ini “ Jangan harap polisi bisa menangkap para koruptor yang mencuri uang negara, selama mereka masih belum bisa mengurusi kesemrautan lalu lintas”. Sedikit menarik memang untuk dipahami lebih lanjut perkataan dari Dimas Nur ini, seorang kawan yang berasal dari daerah Ponoroga dan pandai dalam merajut kata.
Awalnya kalimat itu tidak saya perhatikan, hanya saja dalam perjalanan pulang menuju kontrakan, bunyi kalimat itu masih membekas dipikiran. Belum lama setelah saya sampai kontrakan seorang kawan bernama Danil, menawarkan saya untuk menikmati secangkir kopi, lagi. Saya pun kembali larut dalam obrolan kecil sebelum memejamkan mata ini. Singkatnya obrolan kecil itu membahas tentang mimpi dan harapan dimasa yang akan datang.
“Jangan harap bisa menyelesaikan hal-hal besar jika setelah bangun tidur kita tidak bisa merapikan kembali tempat tidur kita”. Ah, rasa-rasanya saya merasa mengantuk, wajar, karena waktu menunjukan jam 02.20 Wib. Kemudian saya memilih untuk tidur duluan malam itu. Lampu saya matikan, komputer dinyalakan dan lagu dari Agus Rukmana yang berada di playlist di dendangkan. Klik, mata pun terpejamkan.
Sial, rupa-rupanya bunyi percikan air mancur dalam akuarium, alunan kecapi suling dan rebab beserta dua kalimat diparagrap sebelumnya membuat saya terbangun. Saya pun beranjak dari kasur menuju dapur kemudian menyeduh kopi hitam lagi, ini ngawur. Kemudian memasuki kamar yang memang berantakan, bertemankan secangkir kopi dan beberapa batang rokok, melihat komputer yang masih menyala, saya putuskan untuk menulis. Walaupun saya masih belum mengetahui apa yang akan saya tulis.
“Allohu Akbar Allohu Akbar.....” Oh tidak ini sudah jam 04.28 Wib. Waktunya shalat shubuh, dan saya masih belum menulis apa yang akan saya tulis. Hampir setengah jam waktu yang di sia-siakan di depan komputer ini. Dilematis.
Menyadari waktu ini sudah terbuang cukup lama akhirnya, malam itu saya hanya bisa menuliskan, “Tuhan, jika waktu yang Engkau sediakan aku sia-siakan, apakah ini akan menghambatku menjadi wisudawan? Sementara berbagai ‘jalan’ harus aku lalui untuk mendapatkan ‘keduniawian’ sebagai ‘ongkos’ menjadi wisudawan. Nanti pagi adalah harapan dan jawaban. Tapi sebelumnya saya harus menghadapai kenyataan, jika mata ini harus saya pejamkan. Selamat malam.
Tuesday, July 19, 2011
antara cowok tomboy, astri ivo & sms
Malam itu, tidak biasa dan luar biasa bersenggama menjadi sesuatu yang biasa. Hehehehe, biasanya saya berpergian mengendarai vespa, karena tiga dan lain hal saya memilih untuk menggunakan jasa angkutan umum. Biasanya ujang koim menyebut itu dengan kata angkot. Dan malam itu saya menaiki angkot bersama simanehna (semacam penyejuk hati gitu deh J).
Seingat saya, di dalam angkot itu ada sepuluh orang waras ditambah seorang supir yang sedikit mengantuk. Saya yang sedari awal naik angkot kebagian duduk di depan pintu masuk. Banyaknya penumpang, membuat saya merasa sedikit gerah. Dan semakin gerah ketika di pantatin oleh penumpang yang merasa dirinya cantik (padahal dia cowo tomboy) yang akan hendak turun, (entah disengaja atau tidak) masih sempat memamerkan belahan pantat yang memang terlihat seperti kulit jeruk berwarna coklat.
Bukan maksud memalingkan muka dari pemandangan yang demikian adanya, saya pun melirik kearah pacar saya sambil berkata “ah sia gelloooo waas ku halimpu na”. terlihat beberapa penumpang tersenyum malu malu melihat gelagat saya. Tak lama setelah cowo tomboy itu turun, seorang perempuan berkerudung yang mirip Astri ivo meminta supir angkot untuk menepi. “Mang kiri mang”. Mendengar titah itu, Pak supir pun memperlambat dan menepikan mobilnya ke pinggir jalan. Lalu,perempuan itu pun beranjak dari tempat duduknya dan turun. Saya tidak memperhatikan apa yang sedang terjadi, hanya saja rasa-rasanya telinga saya (mungkin penumpang lainnya juga) mendengar dengan jelas perbincangan sekejap itu. “Loh Pak? Kok ngga ada kembaliannya?”. “Emang darimana kitu neng?” balas Pak supir sambil memeriksa kembali uang pemberian Astri ivo kw super itu. “Dari tadi Pak, eh maksudnya dari be i pe Pak”. Saya, pacar saya dan beberapa penumpang hanya bisa tertawa kecil mendengar percakapan itu.
Tak cukup sampai disitu, setelah kami tertawa kecil, saya dengan tanpa sengaja membaca isi dari sebuah pesan singkat penumpang disebelah kanan saya. Kalau tidak salah isi pesan singkatnya “iya yang, bntr lg aku k sana. aa syng ayang” . Pesan singkat itu setelah diketik lalu di kirim kepada seorang penerima yang bernama yayang titi. Pesan yang singkat, sesingkat perjalanan saya dari perempatan B.I.P menuju perempatan sate anggrek.
18 juli 2011, manakala asap sate anggrek [lagi-lagi] mengganggu kenyamanan mata saya
Thursday, July 14, 2011
sate anggrek grek
Kendati pun yang semua terjadi bisa terulang lagi dan saya diberi kesempatan dua kali, itu bukan berarti saya akan mampir ditempat itu.
Awalnya, setelah selesai shoting saya dan beberapa teman hendak mencari makan. Rasa yang lelah mungkin bisa terobati dengan makan makanan yang enak pikir saya. Seorang kawan yang biasa di paggil nanda (bukan nama samarannya) memberi ide untuk makan sate. Pun dengan teman saya yang bernama dimas nur mengamini itu.
Singkat kata, saya dan teman-teman saya segera menuju tempat makan itu yang kebetulan searah dengan tempat saya bekerja.
Ya, sate anggrek. Mungkin sate ini cukup termasyur di kalangan penjelajah wisata kuliner di Bandung. Kamera, tripod, lampu dan beberapa alat shoting lainnya saya letakkan di bawah meja. Pada saat itu, kami berempat merasa lapar memang, maklum hari itu hari yang melelahkan sekaligus melelehkan karena matahari dan tempat pembakaran sate terasa panas saya rasakan.
Setelah duduk santai, saya pun hendak memesan sejumlah makanan. “Mba, saya pesan sate kambing dua puluh dan sapi dua puluh” pesan saya kepada pemilik kedai itu. “Makan disini mas? Yaudah duduk aja dulu, nanti ada pelayan yang menghampiri kalian” jawab perempuan itu dengan judes. Tak lama setelah itu, sorang pelayan datang menghampiri kami “Makan disini mas? Pesan apa? [lagi-lagi nadanya kurang enak didengar].
Entahlah, rasa tersinggung saya sedikit hilang setelah saya melihat raut muka teman saya. Tanpa ambil pusing, saya segera mengambil kamera dan mengambil beberapa foto kedai sate itu.
Makanan sudah dalam perut dan mungkin besok pagi akan bersatu kembali dengan bumi. Tak lama setelah kami makan, kami membayarnya dan segera pergi menjauhi kedai itu. Diperjalanan saya sempat berfikir “setau saya, seorang pedagang yang baik dia seharusnya bisa melayani tamunya dengan baik pula. Tapi apa yang saya alami hari ini, tidak demikian” mungkin dia sedang banyak masalah kali, fikir saya.
Namun, seperti yang saya ungkapkan di awal, kendatipun saya diberi kesempatan dua kali, rasa-rasanya saya lebih memilih kedai sate yang jauh lebih ramah dan tentunya lebih enak dari kedai sate yang bertempat diperempatan jalan riau dan anggrek itu. Itu tu kedai sate yang asapnya mengganggu para pengguna jalan.
Monday, July 11, 2011
a litle things about an art
x: how art you today?
y: good, i feel the artventure in my artmosphere.
x: are you put some an artsip in your brain?
y: no! just imajine mozzart
y: good, i feel the artventure in my artmosphere.
x: are you put some an artsip in your brain?
y: no! just imajine mozzart
Tanah Abang?
Siang itu cuaca Jakarta panas. Panas sekali. Terlihat beberapa orang yang sedang menunggu mikrolet sambil mengipas-ngipaskan koran, map dan tangan kearah muka mereka. Cuaca yang panas itu menyebabkan fatamorgana yang menyilaukan mata. Pun dengan gadis yang mengenakan rok mini itu. Sekedar untuk melepas dahaga, saya pun beranjak dari tempat pemberhentian kendaraan umum lalu membeli sebotol air mineral.
Di waktu bersamaan seorang pemuda menghampiri bapak yang sedang duduk menunggu mikrolet sambil mengipas-ngipaskan koran. "Maaf bang, saya orang baru di Jakarta, baru datang dari Sodong Tasikmalaya. Apakah ini Tanah Abang?" Tanya pemuda itu sambil tersenyum dan sedikit membungkukkan badannya.
"Oh bukan. Ini bukan tanah aku, sumpah! Aku juga baru datang dari Medan, jadi aku juga tidak tahu tanah siapa ini.” Mendengar percakapan itu saya kemudian menghela nafas panjang dan sedikit lupa akan panasnya cuaca hari itu. -_-#
(ilustrasi nemu di om google)
Saturday, July 2, 2011
sajadah dan haram jadah
"malam ini aku merindukan ibu guru,
teman sebangku
dan riuh suasana kelas ketika aku bertanya
"bu, jadi kita itu keturunan monyet atau nabi adam".
selamat malam semuanya, selamat istirahat.
itulah status facebook saya malam ini. awalnya itu hanya iseng belaka. bermulai dari saya yang sering membaca newsfeed teman-teman saya. yang kebanyakan aktivitasnya adalah berjualan.dimulai dari jualan sajadah sampai jualan barang haram jadah.
Friday, July 1, 2011
peri bahasa
"ulah munjung ka gunung
ulah muja ka sagara
punjung mah ka indung
puja mah ka bapa"
ulah muja ka sagara
punjung mah ka indung
puja mah ka bapa"
Subscribe to:
Posts (Atom)





