Friday, November 25, 2011
Friday, October 28, 2011
Menunggu waktunya
Disebuah kamar sempit yang berantakan, Anton terlihat sedikit sadar. Dia terlentang diatas kasur yang sudah tidak empuk lagi. Jaket jeans dan sepatu kusam itu masih menempel di badannya yang kini mengurus. Terlihat digenggaman tangan kanan Anton sebuah botol vodka yang menyisakan tumpahannya diatas karpet. Kini tumpahan alkohol itu mengenai ujung sajadah pemberian dari kekasihnya. Kepalanya terasa pusing dan matanya terasa berat ketika ia berusaha duduk. Pagi itu dunia terasa bergerak begitu lamban di pikiran Anton. Dengan sedikit sisa tenaga yang dimilikinya, perlahan – lahan Anton berusaha bangkit untuk duduk. Lalu menyenderkan diri pada tembok kamarnya. Kepalanya tertunduk lemas. Mulutnya menganga. Terlihat tetesan air liur keluar dari mulut Anton membasahi dagu dan resletingnya. Lalu, dengan punggung tangan kirinya Anton berusaha mengelap air liur yang tersisa di dagunya. Kini dia terdiam lemas. Sekedar menggerakan kelopak mata pun Anton tidak sanggup melakukannya.
Lain halnya Anton, lain juga Mita. Pagi itu dibalik ruangan dingin ber-AC, mita masih terjaga dari waktu istirahatnya. Rasa kantuk yang menerornya, ia lawan dengan menepuk – nepuk pipi dengan kedua tangannya yang lembut. Kemudian dia melirik kearah layar monitor komputer. Dan…
Korban
Petugas: nama?
Korban: prihatini
Petugas: alamat?
Korban: student warior fourty five street
Petugas: status?
Korban: @ kantor polisi lagi bikin surat kehilangan, hufftt semangat….
Petugas: ya..ya..ya..kamu memang korban…
Monday, October 10, 2011
bersemai damai
aku bukan satu-satunya orang yang bermimpi jika dunia ini nyaman.
sela diantara jari jemari yang Engkau ciptakan, seharusnya kami gunakan untuk saling menjabat erat tali persaudaraan.
bukan menjadi kepalan tinju yang membela hawa nafsu.
ada keserakahan yang menyebabkan kelaparan dan kesengsaraan.
negara, agama bukan lagi jaminan.
keduanya terkadang bisa dimainkan.
Tuhan, restui kami dengan jemari ini untuk saling menjabat erat tali persaudaraan.
bukan pertikaian yang kami inginkan, tapi perdamaian.
Wednesday, August 24, 2011
Jelema oh jelema
Dia diawali dengan hurup kapital didepannya
membusungkan dada
lantas membesarkan kepala
kemudian tertawa, hahahahahahaha
mereka dengan hurup kapital kecil diawalnya
menjadi kerdil oleh sesamanya
pun denganku
yang menjelma menjadi Dia dan mereka
dengan atau tanpa diawali hurup kapital didepanya, kita sama
ya, kita hanyalah manusia yang hadir dari sesuatu yang hina
lantas, apakah kita bangga menyebut diri kita manusia yang terkadang tidak manusiawi dalam menyikapi
dunia dan isinya?
Tuesday, August 9, 2011
ambil hikmahnya saja [lama ngampus]
disebuah kantin. sedikit panas udara hati itu. boleh dibilang sepanas perasaan ketika kecengan di gandeng teman seperjuangan. ah, naif. sekedar menghilangkan rasa panas ini, saya pun memesan segelas minuman ringan. kopi hitam panas. lah? ko kopi hitam panas? gampang saja. jika negatif di gabung negatif maka akan posoitif. jadi jika cuaca panas di campur kopi panas, katanya akan dingin -_-
seiring berjalannya waktu, kopi ini mulai dingin. kemudian beberapa teman mulai menghampiri. "eh wa, ko kamu masih dikampus aja?" ucap bunga (bukan nama sebenarnya). "wajar, kan masih mahasiswa. mahasiswa itu selain belajar, tugasnya itu harus ke kampus". jawab saya datar. "oiya, kamu teh kuliah ngambil apa?" tanya bunga [lagi]. "oh, saya mah ambil hikmahnya aja". kembali jawab saya datar -_-
(manakala teringat jalan menuju kampus)
Wednesday, August 3, 2011
Friday, July 29, 2011
Akibat ngopi kala sepertiga malam
Dalam sebuah obrolan kecil diantara kami yang baru saja melepas lelah setelah seharian penuh beraktifitas. Beberapa cangkir kopi tersaji diatas sebuah meja yang sedikit terlihat kurang rapi. Ah, lupakanlah mengenai kerapihan. Ijinkanlah kami untuk sedikit melapas lelah ini. Toh pada akhirnya, besok setelah matahari pagi terbit kita akan segera mengisi hari dengan aktifitas berbeda yang relatif sama. Mengisi waktu luang sebelum kita menutupkan kedua mata ini. Itu pikirku.
Lihat saja temanku yang bernama Nanda. Pemuda tanggung ini lebih asyik selonjoran diatas kursi yang memang nyaman. Ada juga Bobby, pria berbadan besar dan sedikit imut itu sedikit menghibur kami dengan berbagai cerita lucu. Atau obos Nova, begitu panggilannya, yang lebih menikmati untuk mengompori Bobby bercerita lebih lanjut. Dimas nur pun demikian. Menikmati obrolan santai ini dengan mendengarkan dan sesekali bertanya atau mengomentari apa yang sedang kita bicarakan. Saya disini hanya mendengarkan dan memperhatikan kata demi kata yang keluar mulut mereka.
Kata-kata yang masih saya ingat sampai sekarang kurang lebih berbunyi seperti ini “ Jangan harap polisi bisa menangkap para koruptor yang mencuri uang negara, selama mereka masih belum bisa mengurusi kesemrautan lalu lintas”. Sedikit menarik memang untuk dipahami lebih lanjut perkataan dari Dimas Nur ini, seorang kawan yang berasal dari daerah Ponoroga dan pandai dalam merajut kata.
Awalnya kalimat itu tidak saya perhatikan, hanya saja dalam perjalanan pulang menuju kontrakan, bunyi kalimat itu masih membekas dipikiran. Belum lama setelah saya sampai kontrakan seorang kawan bernama Danil, menawarkan saya untuk menikmati secangkir kopi, lagi. Saya pun kembali larut dalam obrolan kecil sebelum memejamkan mata ini. Singkatnya obrolan kecil itu membahas tentang mimpi dan harapan dimasa yang akan datang.
“Jangan harap bisa menyelesaikan hal-hal besar jika setelah bangun tidur kita tidak bisa merapikan kembali tempat tidur kita”. Ah, rasa-rasanya saya merasa mengantuk, wajar, karena waktu menunjukan jam 02.20 Wib. Kemudian saya memilih untuk tidur duluan malam itu. Lampu saya matikan, komputer dinyalakan dan lagu dari Agus Rukmana yang berada di playlist di dendangkan. Klik, mata pun terpejamkan.
Sial, rupa-rupanya bunyi percikan air mancur dalam akuarium, alunan kecapi suling dan rebab beserta dua kalimat diparagrap sebelumnya membuat saya terbangun. Saya pun beranjak dari kasur menuju dapur kemudian menyeduh kopi hitam lagi, ini ngawur. Kemudian memasuki kamar yang memang berantakan, bertemankan secangkir kopi dan beberapa batang rokok, melihat komputer yang masih menyala, saya putuskan untuk menulis. Walaupun saya masih belum mengetahui apa yang akan saya tulis.
“Allohu Akbar Allohu Akbar.....” Oh tidak ini sudah jam 04.28 Wib. Waktunya shalat shubuh, dan saya masih belum menulis apa yang akan saya tulis. Hampir setengah jam waktu yang di sia-siakan di depan komputer ini. Dilematis.
Menyadari waktu ini sudah terbuang cukup lama akhirnya, malam itu saya hanya bisa menuliskan, “Tuhan, jika waktu yang Engkau sediakan aku sia-siakan, apakah ini akan menghambatku menjadi wisudawan? Sementara berbagai ‘jalan’ harus aku lalui untuk mendapatkan ‘keduniawian’ sebagai ‘ongkos’ menjadi wisudawan. Nanti pagi adalah harapan dan jawaban. Tapi sebelumnya saya harus menghadapai kenyataan, jika mata ini harus saya pejamkan. Selamat malam.
Tuesday, July 19, 2011
antara cowok tomboy, astri ivo & sms
Malam itu, tidak biasa dan luar biasa bersenggama menjadi sesuatu yang biasa. Hehehehe, biasanya saya berpergian mengendarai vespa, karena tiga dan lain hal saya memilih untuk menggunakan jasa angkutan umum. Biasanya ujang koim menyebut itu dengan kata angkot. Dan malam itu saya menaiki angkot bersama simanehna (semacam penyejuk hati gitu deh J).
Seingat saya, di dalam angkot itu ada sepuluh orang waras ditambah seorang supir yang sedikit mengantuk. Saya yang sedari awal naik angkot kebagian duduk di depan pintu masuk. Banyaknya penumpang, membuat saya merasa sedikit gerah. Dan semakin gerah ketika di pantatin oleh penumpang yang merasa dirinya cantik (padahal dia cowo tomboy) yang akan hendak turun, (entah disengaja atau tidak) masih sempat memamerkan belahan pantat yang memang terlihat seperti kulit jeruk berwarna coklat.
Bukan maksud memalingkan muka dari pemandangan yang demikian adanya, saya pun melirik kearah pacar saya sambil berkata “ah sia gelloooo waas ku halimpu na”. terlihat beberapa penumpang tersenyum malu malu melihat gelagat saya. Tak lama setelah cowo tomboy itu turun, seorang perempuan berkerudung yang mirip Astri ivo meminta supir angkot untuk menepi. “Mang kiri mang”. Mendengar titah itu, Pak supir pun memperlambat dan menepikan mobilnya ke pinggir jalan. Lalu,perempuan itu pun beranjak dari tempat duduknya dan turun. Saya tidak memperhatikan apa yang sedang terjadi, hanya saja rasa-rasanya telinga saya (mungkin penumpang lainnya juga) mendengar dengan jelas perbincangan sekejap itu. “Loh Pak? Kok ngga ada kembaliannya?”. “Emang darimana kitu neng?” balas Pak supir sambil memeriksa kembali uang pemberian Astri ivo kw super itu. “Dari tadi Pak, eh maksudnya dari be i pe Pak”. Saya, pacar saya dan beberapa penumpang hanya bisa tertawa kecil mendengar percakapan itu.
Tak cukup sampai disitu, setelah kami tertawa kecil, saya dengan tanpa sengaja membaca isi dari sebuah pesan singkat penumpang disebelah kanan saya. Kalau tidak salah isi pesan singkatnya “iya yang, bntr lg aku k sana. aa syng ayang” . Pesan singkat itu setelah diketik lalu di kirim kepada seorang penerima yang bernama yayang titi. Pesan yang singkat, sesingkat perjalanan saya dari perempatan B.I.P menuju perempatan sate anggrek.
18 juli 2011, manakala asap sate anggrek [lagi-lagi] mengganggu kenyamanan mata saya
Thursday, July 14, 2011
sate anggrek grek
Kendati pun yang semua terjadi bisa terulang lagi dan saya diberi kesempatan dua kali, itu bukan berarti saya akan mampir ditempat itu.
Awalnya, setelah selesai shoting saya dan beberapa teman hendak mencari makan. Rasa yang lelah mungkin bisa terobati dengan makan makanan yang enak pikir saya. Seorang kawan yang biasa di paggil nanda (bukan nama samarannya) memberi ide untuk makan sate. Pun dengan teman saya yang bernama dimas nur mengamini itu.
Singkat kata, saya dan teman-teman saya segera menuju tempat makan itu yang kebetulan searah dengan tempat saya bekerja.
Ya, sate anggrek. Mungkin sate ini cukup termasyur di kalangan penjelajah wisata kuliner di Bandung. Kamera, tripod, lampu dan beberapa alat shoting lainnya saya letakkan di bawah meja. Pada saat itu, kami berempat merasa lapar memang, maklum hari itu hari yang melelahkan sekaligus melelehkan karena matahari dan tempat pembakaran sate terasa panas saya rasakan.
Setelah duduk santai, saya pun hendak memesan sejumlah makanan. “Mba, saya pesan sate kambing dua puluh dan sapi dua puluh” pesan saya kepada pemilik kedai itu. “Makan disini mas? Yaudah duduk aja dulu, nanti ada pelayan yang menghampiri kalian” jawab perempuan itu dengan judes. Tak lama setelah itu, sorang pelayan datang menghampiri kami “Makan disini mas? Pesan apa? [lagi-lagi nadanya kurang enak didengar].
Entahlah, rasa tersinggung saya sedikit hilang setelah saya melihat raut muka teman saya. Tanpa ambil pusing, saya segera mengambil kamera dan mengambil beberapa foto kedai sate itu.
Makanan sudah dalam perut dan mungkin besok pagi akan bersatu kembali dengan bumi. Tak lama setelah kami makan, kami membayarnya dan segera pergi menjauhi kedai itu. Diperjalanan saya sempat berfikir “setau saya, seorang pedagang yang baik dia seharusnya bisa melayani tamunya dengan baik pula. Tapi apa yang saya alami hari ini, tidak demikian” mungkin dia sedang banyak masalah kali, fikir saya.
Namun, seperti yang saya ungkapkan di awal, kendatipun saya diberi kesempatan dua kali, rasa-rasanya saya lebih memilih kedai sate yang jauh lebih ramah dan tentunya lebih enak dari kedai sate yang bertempat diperempatan jalan riau dan anggrek itu. Itu tu kedai sate yang asapnya mengganggu para pengguna jalan.
Monday, July 11, 2011
a litle things about an art
x: how art you today?
y: good, i feel the artventure in my artmosphere.
x: are you put some an artsip in your brain?
y: no! just imajine mozzart
y: good, i feel the artventure in my artmosphere.
x: are you put some an artsip in your brain?
y: no! just imajine mozzart
Tanah Abang?
Siang itu cuaca Jakarta panas. Panas sekali. Terlihat beberapa orang yang sedang menunggu mikrolet sambil mengipas-ngipaskan koran, map dan tangan kearah muka mereka. Cuaca yang panas itu menyebabkan fatamorgana yang menyilaukan mata. Pun dengan gadis yang mengenakan rok mini itu. Sekedar untuk melepas dahaga, saya pun beranjak dari tempat pemberhentian kendaraan umum lalu membeli sebotol air mineral.
Di waktu bersamaan seorang pemuda menghampiri bapak yang sedang duduk menunggu mikrolet sambil mengipas-ngipaskan koran. "Maaf bang, saya orang baru di Jakarta, baru datang dari Sodong Tasikmalaya. Apakah ini Tanah Abang?" Tanya pemuda itu sambil tersenyum dan sedikit membungkukkan badannya.
"Oh bukan. Ini bukan tanah aku, sumpah! Aku juga baru datang dari Medan, jadi aku juga tidak tahu tanah siapa ini.” Mendengar percakapan itu saya kemudian menghela nafas panjang dan sedikit lupa akan panasnya cuaca hari itu. -_-#
(ilustrasi nemu di om google)
Saturday, July 2, 2011
sajadah dan haram jadah
"malam ini aku merindukan ibu guru,
teman sebangku
dan riuh suasana kelas ketika aku bertanya
"bu, jadi kita itu keturunan monyet atau nabi adam".
selamat malam semuanya, selamat istirahat.
itulah status facebook saya malam ini. awalnya itu hanya iseng belaka. bermulai dari saya yang sering membaca newsfeed teman-teman saya. yang kebanyakan aktivitasnya adalah berjualan.dimulai dari jualan sajadah sampai jualan barang haram jadah.
Friday, July 1, 2011
peri bahasa
"ulah munjung ka gunung
ulah muja ka sagara
punjung mah ka indung
puja mah ka bapa"
ulah muja ka sagara
punjung mah ka indung
puja mah ka bapa"
Friday, June 24, 2011
Manfaat rokok pan versi humor
Whuataaaaaa,
Jam empat seperempat. Kiranya itu yang saya lihat. Ini sudah shubuh memang. Diluar, bisa saja ibu-ibu sudah pergi kepasar, hansip-hansip sudah beranjak pulang, sebagian ayam sudah berkokok, orang galau sudah menulis sajak, yang rajin mungkin sudah pergi ke masjid. Banyak ceritany ketika shubuh tiba.
Entah apa yang membuat saya begadang. Saya juga kurang tahu, harap ma’lum terkadang kita lupa atau mungkin tidak mengenal siapa diri kita. Yang pasti, saya berterima kasih kepada seorang kawan yang telah bersedia memberikan sebungkus rokok. Lumayan, untuk teman begadang.
Jadi ingat, ngomong-ngomong rokok, beberapa waktu yang lalu tanpa unsur kesengajaan, teman saya itu menemukan artikel tentang manfaat rokok. Salah satunya, rokok itu bisa di jadikan obat. Dan menurut saya, itu hebat. Kalau boleh saya tambahkan, ternyata manfaat rokok (bagi saya) tidak hanya sampai disitu. Ternyata manfaatnya bisa lebih, hehehe. Misalnya, rokok itu bisa menjadi salah satu indikator kesehatan. Kalau masih kuat merokok, berarti masih sehat.
Itu baru satu, belum yang kedua. Dua anak cukup. Itu tagline BKKBN. Ternyata e ternyata, merokok juga bisa membantu program KB. Karena rokok, konon katanya bisa menyebabkan impotensi dan gangguan kehamilan. #gubraggg
Ini sudah shubuh memang, dan lagi-lagi katanya kalau sudah shubuh itu biasanya maling-maling sedang beraksi (kalau maling hati? Ups, curcol). Kembali lagi pada manfaat rokok. Rasa-rasanya merokok itu bisa mengurangi tindakan kriminal. Sampai saat ini saya belum pernah mendengar apalagi menyaksikan orang merampok, menjambret dan lain-lain, sambil merokok. Paling banter golok yang mereka pegang :p
Bisa juga tidak hanya mengurangi perampokan kawan. Saya rasa merokok juga bisa mengurangi tindakan asusila. Belum pernah juga kan melihat kasus perkosaan sambil merokok? Malahan yang ada juga di rokok, ups :D
Nah, kalau manfaat yang ini juara gan. Menurut saya ( eta age ceuk aing anu bodo jeung can lulus kuliah / itu juga kata saya yang bodoh dan belum lulus kuliah) ternyata merokok bisa menambah devisa negara. Tapi angger we loba nu miskin, koplak siah! (Tapi tetap saja banyak yang miskin, “koplak siah” ; plesetan dari koplok = goblog).
Manfaat lainnya, dengan prodak yang namanya rokok ini, kita bisa membantu mencerdaskan kehidupan bangsa. Hehehehe, soalnya sekarang lagi banyak banget program beasiswa dari perusahaan penghasil rokok. Tapi, saya belum pernah dapet tuh J
Rokok bisa membuat orang menjadi taat ibadah. Pasalnya, satahu saya banyak para petani tembakau yang bisa berangkat naik haji. Ya, walaupun mereka terkadang lupa untuk turun haji.
Permisi ke toilet dulu ya, tadi sebelum tengah malam saya sempat makan makanan pedas. Jadinya sekarang saya mau boker dulu. #sfx: plung…plung…plung….biurrrrrrr
Maaf, agak sedikit lama. Rasa-rasanya, gara-gara saya boker di toilet, kayaknya manfaat rokok bisa bertambah lagi deh. Saya rasa rokok bisa menjadi pengharum ruangan. Ya setidaknya bagi saya, ternyata ketika kita lagi boker itu bisa menyamarkan bebauan yang keluarkan itu, hehehehe….
Itu tadi manfaat lain daripada rokok. Sedikit info tambahan, perlu kawan-kwan ketahui kalau orang yang tidak merokok itu penyakitnya banyak. Ada yang sakit ginjal, katarak, kangker payudara, mag, aids, rorombeheun jeung sajabana we lah. Tapi perokok itu penyakitnya cuma satu. Sakit paru-paru. Dan info tambahan lainnya, sangat jarang ditemukan seorang perokok itu masuk UGD. Tahu kenapa? Ya, bisa saja sebelum masuk UGD dia sudah tewas, hehehehe….
Itu tadi [lagi] beberpa pakta (baca: fakta, ma’lum saya orang garut) yang saya tulis. Permasalahan anda merokok atau tidak itu bukan masalah bagi saya. Toh ternyata, saya bisa menemukan sisi lain dan sisi prisilia dari rokok J
***
Ditulis dalam keadaan sadar, sesadar-sadarnya sadar hussein :)
(foto di copy dari blognya teman (bani hudaya, dan ini link urlnya: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgYt-5NXO0Z1gjZ4KSx95rABp7GzmhDY5pO-SdwOFRvFeWIpSyGgSpe4VWwLWGcV3YNvcSNHl4auuS8bGQtNtLFFX-kJ8wQz9KRJUGOpF7QP4RK3KaQyWIwAlJsgCxPAIFnrdDDziuY7MA/s1600-h/by+maru.jpg)
Wednesday, June 22, 2011
Peta Perfilman Indonesia
Latar Belakang
“Film. Mungkin anugerah seni terbesar yang pernah dimiliki manusia.” Kalimat ini muncul dari mulut Joni (Nicholas Saputra) dari film Janji Joni karya Joko anwar (Kalyana Shira, 2005). Mungkin Joni benar. film merupakan media komunal dan cangkokan dari berbagai teknologi seperti teknologi fotografi dan rekaman suara dan unsur-unsur kesenian seperti seni rupa, teater, sastra, arsitektur hingga musik. Ketika Semua unsur tadi terkumpul dan menjadi satu kesatuan utuh yang disebut film lalu bertindak sebagai agen transformasi budaya, film tidak akan tertinggal dan mampu bersaing dengan teknologi media dan seni lainnya.
Dalam kajian media massa, film masuk ke dalam jajaran seni yang ditopang oleh industri hiburan yang menawarkan impian kepada audiensnya yang ikut menunjang lahirnya karya film. Karena itulah, para produser sering kali memperhitungkan selera audiens dalam memproduksi sebuah film.
Sejak pertama kali diputarkannya film nasional Indonesia pada tahun 1926, produksi film nasional Indonesia memang tidak henti-hentinya mengalami gejolak pasang surut. Perfilman Indonesia mencapai puncaknya pada dekade 70 dan 80-an. Ketika itu film-film Indonesia merajai bioskop-bioskop lokal.
Akan tetapi, perkembangan perfilman Indonesia mulai mengalami kelesuan semenjak dekade 90-an. Jumlah produksi film Indonesia mengalami kemerosotan tajam sejak tahun 1992. Data menunjukan tahun 1994 terdapat 26 judul film yang diproduksi, 1995 ada 22 judul, 1996 ada 34 judul, dan 1997 ada 32 judul.[1] Akibatnya, acara tahunan Festival Film Indonesia (FFI) ditiadakan mulai 1992 karena jumlah film yang terlampau sedikit sehingga tidak layak bagi penyelenggaraan festival. Sebagai upaya mendongkrak jumlah produksi film nasional yang terus merosot pada tahun 1990-an, Lembaga Sensor Film (LSF) agak melonggarkan kriteria penyensoran. Akibatnya, banyak muncul film dengan tema-tema seks dan kekerasan. Pun, film-film seperti itu hanya mampu melayani bioskop menengah ke bawah (bioskop golongan C).
Pada tahun 1995 BP2N (Badan Pertimbangan Perfilman Nasioanl) memberikan dana produksi kepada dua film nasioanal: Bulan Tertusuk Ilalang (disutradarai Garin Nugroho) dan Cemeng 2005 (disutradarai Putu Wijaya). Kendatipun film Bulan Tertusuk Ilalang memperolah apresiasi yang bagus dalam festival internasioanl, di dalam negeri sendiri justru gagal secara komersial.
Merosotnya jumlah produksi film Indonesia pada dekade 1990-an, kemudian diperparah oleh krisis moneter yang mendera hampir semua sendi ekonomi nasional. Munculnya film Kuldesak, yang diedarkan pada tahun 1998 dan diproduksi secara bergerilya sejak tahun 1996 menandai babak baru dalam pola produksi film. Film yang di sutradarai oleh quartet “ generasi baru” sineas Indonesia (Riri Reza, Mira Lesmana, Nan Triveni Achnas dan Rizal Mantovani) telah berani mendobrak belenggu birokrasi. Misalanya, tanpa mengajukan ini pendaftaran kepada Departemen Penerangan. Hal lain yang unik dari film Kuldesak adalah sumber pembiayaan yang berasal dari “dana patungan” keempat sutradara itu dari proyek komersial mereka di industri televisi Indonesia. Munculnya film Kuldesak jyga menandai leburnya pemilahan yang nyaris sulir dipersatukan selama ini di antara pihak produser dan sutradara. Dengan kata lain, Kuldesak menjadi momen betapa regulasi dalam produski pelan-pelan mulai kehilangan relevansi sosiologisnya serta efektivitas ekonomisnya dalam menjamin bisnis perfilman. Dalam praktiknya, sejumlah film Indonesia yang diproduksi belakangan tak terlampau terikat lagi dengan regulasi pemerintah dalam produksi.
Awal tahun 2000, muncul film berjudul Petualangan Sherina yang dibintangi oleh Sherina Munaf, aktris dan penyanyi cilik berbakat. Riri Reza dan Mira Lesmana yang berada di belakang layar film ini berhasil membuat film ini menjadi tonggak kebangkitan kembali perfilman Indonesia. Setelah itu munculah berbagai judul film lain dengan segmen dan tema yang berbeda-beda yang juga mendulang sukses secara komersil, seperti film Jelangkung yang merupakan tonggak tren film horror remaja yang pernah bertengger di bioskop Indonesia untuk waktu yang cukup lama. Selain itu ada pula film Ada Apa dengan Cinta yang menampilkan sosok Dian Sastro dan Nicholas Saputra yang merupakan merupakan film roman remaja. Sejak saat itu berbagai judul film dengan berbagai tema dan genre mulai bermunculan seperti Di Sini Ada Setan, Tusuk Jelangkung, Bintang Menari, Eiffel I’m in Love, Arisan, Daun di Atas Bantal, Ijinkan Aku Menciummu Sekali Lagi, Marsinah, Dealova, Lovely Luna, Beth, Novel Tanpa Huruf R, Bad Wolves, dan Catatan Akhir Sekolah adalah beberapa diantara judul-judul film Indonesia yang memainkan perannya dalam kebangkitan Industri perfilman nasional.
Akan tetapi, di era yang bersamaan dengan lahirnya Keputusan Presiden tentang “ Bidang Usaha Yang Tertutup dan Yang Terbuka Dengan Persyaratan Tertentu Bagi Penanaman Modal” telah ikut andil “Mematikan” bisnis film di Indonesia. Ini karena keputusan presiden itu memuat ketentuan tertutupnya investasi dari pihak asing dari kemungkinan modal (investasi) asing, dan hal itu membuat perfilaman Indonesia mendapati permasalahan dalam pengadaan dana. Dengan demikian keputusan presiden tersebut sesungguhnya bersifat kontraproduktif dengan upaya mendongkrak jumlah produksi film nasional.
Di sisi lainnya, persoalan distribusi film sama pentingnya dan berhubungan erat dengan produksi film karena setelah film selesai diproduksi kemudian masuk ke lembaga sensor, film tersebut siap dipasarkan atau didistribusikan.
Berbicara tentang distribusi perfilman merujuk pada realistis bisnis yang menguasai tiga unsur dalam mata rantai bisnis film yang meliputi pengadaan film impor, distribusi atau pengedaran film dan eksebisinya di bioskop yang praktek bisnisnya mengacu pada konsep integrasi vertikal.
Bersambung......
[1] JB Kristanto, Sepuluh Tahun Terakhir Perfilman Indonesia, www.kompas.com/kompas-cetak/0507/02/Bentara/1857854.htm, 24 Nopember 2005.
Mangga, Malam mingguan#12 (Pemutaran dan diskusi film)
Mangga, Malam mingguan adalah acara rutin sebulan sekali yang diselenggarakan Sanggar Sinema Story Lab yang merupakan kegiatan diluar kelas dari Sekolah Sinematografi Story Lab. Selain memutar film-film karya kami, acara ini juga menerima karya teman-teman untuk diputar dan di apresiasi. Tidak hanya sampai di situ, pada Mangga, Malam Mingguan juga ada diskusi interaktif antara penonton dan pembuat filmnya.
Pada Mangga, Malam Ming...guan sekarang (yang ke-12), kami akan menghadirkan beberapa film dengan tema“film ¾ jadi”. Film-film yang akan di putar antara lain:
1. Cokelat
Sutradara: Inggrid Putri Omega & Muchamad Hanif
Fiksi | 4’ 54” | Story Lab | 2011 Bandung
Setiap orang mempunyai kenangan dengan coklat. Coklat bagi orang kebanyakan adalah sesuatu yang manis. Tapi, dibalik manisnya coklat ada juga kisah pahit. Ini dialami oleh Nita. Bagaimana Yanyan mengembalikan pahitnya coklat dan hidup Nita melalui sebatang coklat?
2. Lelah
Sutradara: Andi Pardede
Fiksi | 2’ 54” | Crewpuck Pictures | 2011 | Bandung
Anak. Sebuah keluarga tentunya belum lengkap jika tanpa kehadiran anak. Disisi lain, manusia sebagai mahluk Tuhan, suka melampaui atas apa yang telah menjadi kehendak Tuhan. Termasuk usaha-usaha untuk mempunyai anak
3. Kenal Pot
Sutradara: Kartiwa
Fiksi | 3’ 31” | S3L Production | 2011 | Bandung
Manusia dalam berkomunikasi sering kali terhambat oleh “noise”. Film sebagai bentuk komunikasi massa tak ayal terhambat juga oleh “noise-noise” dalam pembuatannya. Film ini adalah representasi pegiat film (khususnya di bandung) ketika hendak memvisualkan ceritanya.
4. Lewat Dini Hari
Sutradara: Momor. S.ikom
Fiksi | 3’ 45” | S3L Production | 2011 | Bandung
Dunia industri tidak lepas dari deadline.
5. Oh My God “Ngeden”
Sutradara: Ikra “Nitz” Amnesia
Fiksi | 4’ 30” | S3L Production | 2011 | Bandung
Membuang hajat adalah anugerah terbesar dalam kehidupan manusia. Dan gempa adalah musibah bagi sebagian orang. Manakala anugerah dan musibah dipersatukan dalam waktu yang bersamaan, apa yang terjadi?
7. Cinta Masuk Desa*
* Masih dalam konfirmasi
Dan Pertunjukan Akustik dari Elsi Like Tree
Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Sabtu, 25 Juni 2011
Jam 19.00 s.d 21.00 Wib
Story Lab, Jl. Mangga No.14 Bandung
Informasi Lebih lanjut: Andi Pardede [085722274219]
GRATISSSS!!!!
Pada Mangga, Malam Ming...guan sekarang (yang ke-12), kami akan menghadirkan beberapa film dengan tema“film ¾ jadi”. Film-film yang akan di putar antara lain:
1. Cokelat
Sutradara: Inggrid Putri Omega & Muchamad Hanif
Fiksi | 4’ 54” | Story Lab | 2011 Bandung
Setiap orang mempunyai kenangan dengan coklat. Coklat bagi orang kebanyakan adalah sesuatu yang manis. Tapi, dibalik manisnya coklat ada juga kisah pahit. Ini dialami oleh Nita. Bagaimana Yanyan mengembalikan pahitnya coklat dan hidup Nita melalui sebatang coklat?
2. Lelah
Sutradara: Andi Pardede
Fiksi | 2’ 54” | Crewpuck Pictures | 2011 | Bandung
Anak. Sebuah keluarga tentunya belum lengkap jika tanpa kehadiran anak. Disisi lain, manusia sebagai mahluk Tuhan, suka melampaui atas apa yang telah menjadi kehendak Tuhan. Termasuk usaha-usaha untuk mempunyai anak
3. Kenal Pot
Sutradara: Kartiwa
Fiksi | 3’ 31” | S3L Production | 2011 | Bandung
Manusia dalam berkomunikasi sering kali terhambat oleh “noise”. Film sebagai bentuk komunikasi massa tak ayal terhambat juga oleh “noise-noise” dalam pembuatannya. Film ini adalah representasi pegiat film (khususnya di bandung) ketika hendak memvisualkan ceritanya.
4. Lewat Dini Hari
Sutradara: Momor. S.ikom
Fiksi | 3’ 45” | S3L Production | 2011 | Bandung
Dunia industri tidak lepas dari deadline.
5. Oh My God “Ngeden”
Sutradara: Ikra “Nitz” Amnesia
Fiksi | 4’ 30” | S3L Production | 2011 | Bandung
Membuang hajat adalah anugerah terbesar dalam kehidupan manusia. Dan gempa adalah musibah bagi sebagian orang. Manakala anugerah dan musibah dipersatukan dalam waktu yang bersamaan, apa yang terjadi?
7. Cinta Masuk Desa*
* Masih dalam konfirmasi
Dan Pertunjukan Akustik dari Elsi Like Tree
Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Sabtu, 25 Juni 2011
Jam 19.00 s.d 21.00 Wib
Story Lab, Jl. Mangga No.14 Bandung
Informasi Lebih lanjut: Andi Pardede [085722274219]
GRATISSSS!!!!
Monday, June 6, 2011
Jebakan Buaya
Pagi itu alun-alun negeri Kumulusun yang terletak tidak jauh dari sungai Kaluangai sudah ramai. Ramai sekali. Wajar, karena hari itu Raja Sulum Al-Lusun akan mencari pendamping untuk puteri tunggalnya. Nyi Sum Lusun. Dia perempuan yang cantik ayu dan sedikit pemalu. Terlihat beberapa pemuda tampan dan gagah berani berkumpul mengelilingi alun-alun. Tak lama setelah itu, baginda raja dan semua rombongan segera menuju tepian sungai untuk melaksanakan sayambara.
“Baiklah, saudara-saudara sekalian saya berterima kasih atas kedatang kisanak semuanya. Dihari yang indah ini saya bermaksud mencari pendamping untuk puteri saya. Disana, disungai itu dulunya terdapat sepuluh buaya yang ganas. Namun sekarang, tinggal tujuh. Karena beberapa waktu yang lalu tiga buaya lainnya telah dimangsa oleh saudaranya sendiri. Barang siapa yang berhasil menyeberangi sungai Kaluangai dengan selamat, maka dia berhak atas puteriku dan kerajaanku.”
Mendengar bewara yang diucapkan oleh sang raja semua pria tampan dan gagah perkasa menjadi tidak bernyali. Bahkan terlihat beberapa pemuda memegang leher mereka sambil ketakutan. Dan suasanapun menjadi hening. Tiba-tiba dibalik semua keheningan itu, seorang pemuda kurus terjun melompati sungai dan dengan kecepatan tinggi di mampu selamat sampai seberang sungai Kaluangai.
“Wahai pemuda, siapa namamu? Darimana Asalmu? Apakah kamu bahagia mewarisi kerajaanku dan menikahi puteriku? Tanya baginda raja sumringah. “Maaf tuanku, rasa-rasanya semua pertanyaanmu tidak begitu penting bagiku. Sekarang aku hanya ingin tahu siapa orang yang mendorongku dan membuatku terjerumus di sungai ini”
Saturday, June 4, 2011
telegram tuhan
demi bau tanah setelah diguyur hujan
dan bau kaki yang dibalut kaos kaki
diri yang terisolasi
dalam rupa manusia yang tak manusiawi
ada sebuah kealpaan dalam fikiran
ketika hendak menggapai sebuah tujuan
seringkali kita melupakan orang tua yang merupakan teladan!
lalu, kenapa kita menjadi demikian?
tersirat kabar melalui sebuah telegram dari tangan tuhan, yang terucap dari mulut seorang perempuan
nyatanya orang tua tidak bertindak demikian.
dan bau kaki yang dibalut kaos kaki
diri yang terisolasi
dalam rupa manusia yang tak manusiawi
ada sebuah kealpaan dalam fikiran
ketika hendak menggapai sebuah tujuan
seringkali kita melupakan orang tua yang merupakan teladan!
lalu, kenapa kita menjadi demikian?
tersirat kabar melalui sebuah telegram dari tangan tuhan, yang terucap dari mulut seorang perempuan
nyatanya orang tua tidak bertindak demikian.
Tuesday, May 31, 2011
Taryono vs Jhon
Siang, itu hawanya terasa panas. Panas sekali. Lipatan-lipatan debu jalanan dibalut asap kenalpot membuat jalanan terasa hot. Terlihat seorang pemuda gahar sedang meminum minuman beralkohol di pinggir jalan. Panasnya udara tidak ia hiraukan. Seorang pria kepayahan karena panas, datang dari arah berlawanan dan menghampiri pemuda yang sedang mabuk. Dengan sedikit ragu, Taryono pemuda tinggi kurus asal tegal mencoba menghampiri Jhon. Pemuda tegap yang sedang mabuk.
"Maaf masnya, saya numpang tanya" Taryono terlihat sedikit membungkukan badannya. Mendengar pertanyaan itu Jhon tidak menggubris. Dia seolah hanya peduli dengan apa yang tengah dipegangnya. Minuman beralkohol. "Maaf masnya, kalau saya mengganggu si mas. Saya mau numpang tanya, kalau pasar itu dimana ya?" Ucap Tartono sambil sedikit membungkukan dadannya [lagi]. Perlahan dengan pasti Jhon mulai menatap pemuda tinggi kurus yang sedang berada tepat didepannya. Lalu dia berusaha berdiri. "Kau berjalan terus, teruuuus, teruuuuus keujung sana. Kalau disana ada banyak orang, itu passssaaar!" Mata Jhon melotot. "Oh, jadi saya salah jalan ya mas?". "Maaf masnya, mengganggu lagi". Jhon berhenti menegak minuman beralkoholnya. Hampir tersedak dia. "Apalagi kamu ini, mau saya hajar?" Terlihat Jhon mengarahkan tinjunya kewajah Taryono. "Maaf masnya, kalau boleh saya tahu, jalan kerumah sakit itu kemana ya?" Taryono berusaha tersenyum segan. "Ah, kamu ini mengganggu orang saja. Sekarang kamu mundur tiga langkah dan berbaring di garis putih itu, lalu beberapa saat kemudian ada mobil yang mengantarkanmu ke rumah sakit. Gampangkan?". Mendengar penjelasan Jhon Taryono hanya bisa tersenyum kecut. Sambil berjalan meninggalkan pemuda mabuk tadi, taryono berguman "sekarang sumber air sudekat, bisa mabuk kapan saja kakaaaa"
(Terinspirasi dari mop epen kah cupen toh)
Subscribe to:
Posts (Atom)




