Tuesday, May 31, 2011

Taryono vs Jhon

     Siang, itu hawanya terasa panas. Panas sekali. Lipatan-lipatan debu jalanan dibalut asap kenalpot membuat jalanan terasa hot. Terlihat seorang pemuda gahar sedang meminum minuman beralkohol di pinggir jalan. Panasnya udara tidak ia hiraukan. Seorang pria kepayahan karena panas, datang dari arah berlawanan dan menghampiri pemuda yang sedang mabuk. Dengan sedikit ragu, Taryono pemuda tinggi kurus asal tegal mencoba menghampiri Jhon. Pemuda tegap yang sedang mabuk.

    "Maaf masnya, saya numpang tanya" Taryono terlihat sedikit membungkukan badannya. Mendengar pertanyaan itu Jhon tidak menggubris. Dia seolah hanya peduli dengan apa yang tengah dipegangnya. Minuman beralkohol. "Maaf masnya, kalau saya mengganggu si mas. Saya mau numpang tanya, kalau pasar itu dimana ya?" Ucap Tartono sambil sedikit membungkukan dadannya [lagi]. Perlahan dengan pasti Jhon mulai menatap pemuda tinggi kurus yang sedang berada tepat didepannya. Lalu dia berusaha berdiri. "Kau berjalan terus, teruuuus, teruuuuus keujung sana. Kalau disana ada banyak orang, itu passssaaar!" Mata Jhon melotot. "Oh, jadi saya salah jalan ya mas?". "Maaf masnya, mengganggu lagi". Jhon berhenti menegak minuman beralkoholnya. Hampir tersedak dia. "Apalagi kamu ini, mau saya hajar?" Terlihat Jhon mengarahkan tinjunya kewajah Taryono. "Maaf masnya, kalau boleh saya tahu, jalan kerumah sakit itu kemana ya?" Taryono berusaha tersenyum segan. "Ah, kamu ini mengganggu orang saja. Sekarang kamu mundur tiga langkah dan berbaring di garis putih itu, lalu beberapa saat kemudian ada mobil yang mengantarkanmu ke rumah sakit. Gampangkan?". Mendengar penjelasan Jhon Taryono hanya bisa tersenyum kecut. Sambil berjalan meninggalkan pemuda mabuk tadi, taryono berguman "sekarang sumber air sudekat, bisa mabuk kapan saja kakaaaa"



(Terinspirasi dari mop epen kah cupen toh)

Thursday, May 19, 2011

Visualisasi Televisi

Mungkin disini sepi dan sunyi
Disebrang sana sebagian orang bernyanyi
Bergemuruh riuh dengan bunyi-bunyi
Lihat itu, para penari!
Lekuk tubuhnya  illusi
Parasnya Frustasi
Ada juga yang berkelahi adu nyali
Menjemput pati
Apakah ini imajenasi?
Bukan, ini visualisasi sebuah televisi.

"manakala sendiri, bertemankan secangkir kopi"

Friday, May 6, 2011

Cara Kami merasa


“….Awas ah ketawa mulu, ntar kita jadian loh….”

Mendengar kata – kata itu, kemudian sepasang bola mata yang bulat dibalut kacamata dengan pipi merah merona kemudian tersenyum. Senyum yang mengembang. Malam itu, kalaupun Venus ada disampingku, aku yakin perempuan yang sekarang sedang duduk manis dihadapanku jauh lebih cantik. Melalui dua gelas bandrek panas dan empat potong pisang goreng, sebuah kepastian akan hari esok dan babak baru keturunan Adam dan Hawa dimulai sejak saat itu.
Dia perempuan biasa. Aku juga biasa. Tapi, ketika kami berdua, itu bisa jadi luar biasa. Kami hanya sepasang insan yang bertalian rasa, mencoba hidup bahagia, bukan mencari siksa kemudian terpaksa untuk mencinta.
***

Wednesday, May 4, 2011

Musik sebagai alat komunikasi

          Kehidupan manusia tidak bisa dilepaskan dari musik. Bahkan orang – orang yang hidup di pedalaman pun mengenal musik. Dari dulu sampai sekarang upacara – upacara adat yang digelar mereka, pasti diwarnai oleh bunyi – bunyian yang dikeluarkan oleh alat musik tradisional maupun dari mulut orang-orang yang sedang mengikuti acara tersebut. Begitu juga dengan acara – acara keagamaan. Lantunan ayat suci Al-Qur’an yang keluar dari mulut qari atau qari’ah, bahkan puji – pujian dalam shalawat nabi pun mengeluarkan nada – nada yang enak didengar. Umat Kristen bahkan punya Paduan Suara Gereja. Itulah mengapa manusia tidak bisa hidup tanpa musik. Suka atau tidak, musik telah memberikan pengaruh yang sangat besar kepada manusia. Itulah sebabnya, orang seperti Bob Marley, Elvis Presley dan beberapa musisi lainnya bisa mempengaruhi jutaan penduduk Jamaika, Amerika bahkan penduduk dunia lewat lirik – lirik lagunya. 
Malam ini, ketika tanpa sengaja saya membuka sebuah folder bernamakan ‘musik ciamiksss’. Sekilas saya membacanya musik ciamis, penasaran dengan isi dari folder itu saya pun membukanya lalu memasukan satu persatu kedalam playlist winamp dan mendengarkan beberapa lagu tanpa judul itu (hanya bertuliskan; track 01, track 02 dst).
Sambil mendengarkan lagu – lagu itu, ternyata itu bukan dari musisi – musisi yang legendaris. Bukan juga lagu – lagu yang laris ataupun lagu yang berkisah cinta romantis. Ini adalah lagu yang akrab ditelinga saya ketika jaman kuliah dulu. Salah satu yang masih saya ingat betul adalah lagu yang berjudul “buruh tani”. Dan ini lrik lagunya:

Buruh tani mahasiswa rakyat miskin kota/
Bersatu padu rebut demokrasi//
Gegap gempita dalam satu suara/
Demi tugas suci yang mulia//
Hari-hari esok adalah milik kita/
Terciptanya masyarakat sejahtera/
Terbentuknya tatanan masyarakat
Indonesia baru tanpa Orba//
Marilah kawan/ mari kita kabarkan/
Di tangan kita tergenggam arah bangsa/
Marilah kawan/ mari kita nyanyikan/
Sebuah lagu tentang pembebesan//
Di bawah kuasa tirani/
Kususuri garis jalan ini/
Berjuta kali turun aksi/
Bagiku satu langkah pasti//

 Awalnya musik mungkin hanya serangkaian bunyi yang memiliki nada. Bunyi – bunyian tersebut dikeluarkan melalui suara manusia, atau alat – alat lain yang bisa mengeluarkan nada, seperti alat – alat musik misalnya. Musik itu sendiri kemudian menjadi bentuk komunikasi. Jika kita lihat dari model komunikasi Laswell yang berbunyi, who says what to whom in which channel with what effect, maka musik dapat kita masukkan ke dalam salah satu bentuk komunikasi. Dan bagi saya, setelah mendengar beberapa lagu tadi, saya merasa merindukan masa – masa kuliah saya. Salah satunya adalah masa ketika aksi.
Terima kasih untuk kejutan malam ini, berkat mendengarkan beberapa lagu waktu dulu saya masih harus beraksi menulis skripsi dan wisuda bulan juli.